Berita

Ichsanudin Noorsy/Net

Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok, Ichsanudin Noorsy: Fundamental Makro Ekonomi Indonesia Rapuh

RABU, 18 MARET 2020 | 17:47 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang per hari ini, Rabu (18/3) tembus angka Rp 15.375,05 perlu disikapi secara serius oleh pemerintah.

Salah satu cara untuk menurunkan nilai tukar rupiah agar kembali menguat terletak pada pelepasan dolar Amerika Serikat itu sendiri oleh Bank Indonesia.

Selain itu, pemerintah mesti totalitas mengeluarkan semua yang dimiliki oleh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar daya beli meningkat meskipun sulit.


Demikian disampaikan Ekonom Senior Ichsanudin Noorsy saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Rabu (18/3).

"Kalau nurunin nilai tukar cuma terletak pada posisi pelepasan dolar yang dimiliki. Dalam kondisi seperti ini yang harus dilakukan, apa yang dimiliki oleh pemerintah sekarang ini harus sepenuhnya untuk kebutuhan masyarakat. Sekaligus mendorong berputarnya perekonomian walaupun dalam perputaran yang sangat rendah," kata Ichsanudin Noorsy.

Menurut Ichsanudin, terkait opsi masyarakat menukarkan dolar, agaknya akan sulit untuk menukarkan dolar yang dimilikinya.

Sebab, dalam kondisi seperti saat ini masyarakat cenderung memilih bertahan di tengah ancaman virus corona yang berdampak signifikan terhadap ekonomi.

"Masyarakat nggak bakal mau karena masyarakat sudah merasa dia tidak dapat perlindungan dari aspek ekonomi. Masyarakat juga akhirnya melindungi dirinya sendiri. Yang punya uang cuma Bank Indonesia (BI) sekarang," kata pengamat ekonomi jebolan Universitas Airlangga ini.

Adapun, terkait langkah yang mesti dilakukan oleh BI, yakni dengan melakukan non delivery forward, intervensi keuangan, hingga menggunakan cadangan devisa.

Namun, lanjut dia, yang menjadi soal adalah apakah BI mampu atau tidak menghadapi ketidakpercayaan investor akan fundamental ekonomi makro Indonesia yang rapuh seperti saat ini.

"Banyak yang bisa dilakukan oleh BI, non delivery forward dipake, intervensi diterusin, pake aja itu cadangan devisa. Kan kemaren udah turun Rp 1,3 miliar pake aja lagi supaya tetap bisa stabil," tuturnya.

"Pertanyaannya adalah mampukah BI menghadapi ketidakpercayaan investor terhadap fundamental makro ekonomi Indonesia yang rapuh," demikian Ichsanudin Noorsy. 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya