Berita

Ilustrasi/Net

Muhammad Najib

Bagaimana Seharusnya Umat Islam Memandang Virus Corona Yang Melanda Dunia

MINGGU, 15 MARET 2020 | 21:53 WIB

VIRUS jenis baru  dengan nama Covid-19 yang lebih populer dengan sebutan corona, pertama kali muncul di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, kemudian menyebar dengan kecepatan luar biasa ke seluruh dunia, telah menimbulkan korban sakit dan meninggalkan dunia yang terbilang tidak sedikit.

Akibatnya, timbul kepanikan di banyak kota maupun negara, termasuk Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Karena itu, pemerintah menetapkannya sebagai bencana nasional. Dengan demikian, masalah ini  tidak lagi ditangani oleh Kementerian Kesehatan, akan tetapi sudah beralih ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tokoh-tokoh Islam menyikapinya beragam, mulai dari yang sangat berhati-hati dengan menempatkannya secara rasional dan proporsional, sampai yang emosional dengan menganggapnya sebagai bagian dari azab Allah disebabkan dosa-dosa yang diperbuat sebagian hambanya.


Perspektif agama apapun, tentu akan sangat mempengaruhi para pengikutnya, karena dari satu sisi ia berdimensi beyond atau lebih tinggi dari rasio manusia. Karena itu,  seringkali ilmu pengetahuan tidak mampu menjangkau kebenaran agama, walaupun dalam Islam sangat menghormati rasio manusia.

Sementara di sisi lain, agama juga berdimensi pribadi yang memiliki sifat sangat subyektif. Karena itu, berbagai isu yang dikaitkan dengan agama menjadi sangat sensitif dan mudah membakar emosi. Jika lepas kendali bisa sangat distruktif.

Merujuk pada berbagai komentar, terutama yang tersebar di media sosial, maka isu masalah virus Corona yang dikaitkan dengan Islam sudah berkembang terlalu jauh.

Sadar atau tidak para penulisnya, sebenarnya telah menumpangi isu ini untuk menumpahkan kemarahannya atas perlakuan sejumlah negara terhadap ummat Islam, khususnya di negara yang penduduk Islamnya sebagai minoritas.

Sementara di tingkat nasional, kekecewaan politik kelompok tertentu ditambah himpitan ekonomi, ikut mempengaruhi suasana kebathinan mereka dalam menyikapi berkembangnya virus Corona di tanah air. Akibatnya cendrung hanya menyalahkan sejumlah pihak.

Kita sebaiknya tidak panik dan tetap tenang menhadapi semua ini, dengan menempatkannya secara rasional dan proporsional. Karena hanya dengan cara ini, kita bisa menyikapinya secara benar, kemudian mampu memilih tindakan yang terbaik.

Lalu bagaimana jika dikaitkan dengan Islam? Ada dua tulisan yang sudah tersebar yang layak dirujuk. Pertama, tanpa nama penulisnya, yang mengingatkan bagaimana saat Khalifah ke-2 Umar bin Khattab menyikapi wabah Tha'un Amwas (penyakit menular) yang melanda wilayah Syam waktu itu.

Umar dan rombongan yang mendengar berita adanya wabah tersebut sebelum memasuki wilayah itu, menghadapi perdebatan para sahabat: apakah akan meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagai pimpinan Umar memutuskan tidak meneruskan perjalanan dengan alasan: kita memilih takdir yang satu dan meninggalkan takdir yang lain. Artinya ikhtiar manusia menjadi penting dalam masalah ini.

Pada bagian lain, dengan merujuk Hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh HR Bukhari yang menyatakan: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi, jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat ini. Hal ini sejalan dengan metode medis modern yang dikenal dengan istilah "karantina".

Kedua, tulisan Imam Shamsi Ali yang mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran atas berbagai peristiwa yang terjadi, sabar menghadapinya, lalu mencari hikmah di balik semua itu, sembari tidak berhenti untuk terus berdoa kepada Allah SWT.  

Dengan menggunakan istilah yang dipakai oleh Ketua Muhammadiyah Haedar Nasir, menghadapi masalah virus Corona kali ini sebagaimana kita menghadapi masalah pada umumnya, perlu menggunakan pendekatan rasional dan spiritual dengan berikhtiar dan berdoa.

Dengan demikian ummat Islam tidak hanya berhenti dengan mengambil posisi sebagai hakim, akan tetapi sebagai dokter yang menyikapi dan bertindak menolong korban. Dan pada saat bersamaan berusaha mencari jalan keluar yang dapat menyelamatkan ummat manusia, tanpa memandang suku, etnis, maupun agamanya. Wallahua'lam

Muhammad Najib
Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya