Berita

Pasien influenza ditempatkan di bawah sinar matahari di rumah sakit terbuka darurat Camp Brooks di Boston/Arsip Nasional-Medium.com

Dunia

Belajar Dari Pandemi Flu Spanyol 1918, Udara Segar Dan Sinar Matahari Bantu Penyembuhan

SABTU, 14 MARET 2020 | 10:12 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pandemi virus corona atau Covid-19 yang kini menginfeksi ribuan orang di lebih dari 80 negara di dunia mengingatkan publik pada pandemi influenza, atau disebut juga flu spanyol, yang pernah terjadi pada tahun 1918 lalu.

Penulis sekaligus akademisi dan otoritas kesehatan yang diakui secara internasional di built environment, Richard Hobday membuat tulisan soal pelajaran penting yang bisa diambil dari pandemi influenza tahun 1918 dan berpotensi efektif digunakan dalam menghadapi virus corona yang saat ini telah menginfeksi puluhan ribu orang secara global.

Menurutnya, catatan dari pandemi 1918 menunjukkan ada satu teknik yang digunakan untuk menangani influenza. Teknik tersebut tidak banyak diketahui saat ini, namun bekerja sangat efektif untuk membantu pemulihan pasien influenza.


Kata kuncinya adalah udara segar, sinar matahari, dan masker wajah yang diimprovisasi. Hal itu kemungkinan juga bisa membantu kita saat ini.

"Sederhananya, petugas medis menemukan bahwa pasien yang sakit flu parah dirawat di luar rumah, pulih lebih baik daripada mereka yang dirawat di dalam ruangan," tulis Hobday.

"Kombinasi udara segar dan sinar matahari tampaknya telah mencegah kematian di antara para pasien, dan infeksi di antara staf medis," sambungnya.

Dia menambahkan bahwa ada dukungan ilmiah untuk hal tersebut.

"Penelitian menunjukkan bahwa udara luar adalah desinfektan alami. Udara segar dapat membunuh virus flu dan kuman berbahaya lainnya. Sama halnya, dengan sinar matahari," tambahnya dalam artikel berjudul Coronavirus and the Sun: a Lesson from the 1918 Influenza Pandemic, yang dimuat di Medium.com, 10 Maret lalu.

Dia merujuk pada sejarah. Selama pandemi besar tahun 1918 lalu, dua tempat terburuk penularan adalah barak militer dan kapal pasukan.

Pasalnya, kepadatan dan ventilasi yang buruk membuat prajurit dan pelaut berisiko tinggi terkena influenza dan infeksi lain yang sering mengikutinya. Sebagian besar korban infeksi flu Spanyol itu rata-rata tidak meninggal dunia karena influenza itu sendiri, melainkan karena pneumonia dan komplikasi lainnya.

"Ketika pandemi influenza mencapai pantai Timur Amerika Serikat pada tahun 1918, kota Boston sangat terpukul. Jadi Pengawal Negara mendirikan rumah sakit darurat. Mereka mengambil kasus terburuk di antara pelaut di kapal di pelabuhan Boston. Petugas medis rumah sakit telah memperhatikan bahwa para pelaut yang sakit paling parah berada di ruang berventilasi buruk," tulis Hobday.

"Jadi dia memberi mereka udara segar sebanyak mungkin dengan meletakkannya di tenda. Dan dalam cuaca yang baik mereka dibawa keluar dari tenda mereka dan dijemur," tambahnya.

Pada saat itu, sambung Hobday, sudah umum untuk menempatkan tentara yang sakit di luar ruangan terbuka. Hal semacam itu juga menjadi pengobatan pilihan untuk infeksi pernapasan lain yang umum dan sering mematikan pada saat itu, seperti TBC.

Pasien ditempatkan di atas tempat tidur mereka menghirup udara segar di luar ruangan. Atau mereka dirawat di bangsal berventilasi silang dengan jendela terbuka siang dan malam.

Metode udara terbuka semacam itu populer sampai antibiotik menggantikannya pada tahun 1950-an.

Hobday menambahkan, pasien yang dirawat di luar ruangan cenderung menghirup udara bersih di lingkungan yang sebagian besar steril.

"Kita tahu ini karena, pada 1960-an, para ilmuwan Kementerian Pertahanan membuktikan bahwa udara segar adalah desinfektan alami," sambungnya.

Menempatkan pasien yang terinfeksi di bawah sinar matahari mungkin bisa membantu karena tidak mengaktifkan virus influenza serta membantu membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi paru-paru dan lainnya di rumah sakit.

"Selama Perang Dunia Pertama, ahli bedah militer secara rutin menggunakan sinar matahari untuk menyembuhkan luka yang terinfeksi. Mereka tahu itu desinfektan. Apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa satu keuntungan menempatkan pasien di luar di bawah sinar matahari adalah mereka dapat mensintesis vitamin D di kulit mereka jika sinar matahari cukup kuat," tulisnya.

Kadar vitamin D yang rendah, dalam penelitian terbaru, dikaitkan dengan infeksi pernapasan dan dapat meningkatkan kerentanan terhadap influenza. Selain itu, ritme biologis tubuh kita tampaknya memengaruhi cara kita melawan infeksi. Penelitian baru juga menunjukkan bahwa mereka dapat mengubah respons peradangan kita terhadap virus flu.

Namun, seperti halnya vitamin D, pada saat pandemi 1918, bagian penting yang dimainkan oleh sinar matahari dalam menyinkronkan ritme ini tidak diketahui.

Selain udara segar dan sinar matahari, faktor lain yang juga membantu mengeram pandemi flu Spanyol tahun 1918 lalu adalah masker improvisasi.

Selama pandemi tersebut, tim medis juga mengenakan masker bedah untuk melindungi diri dari infeksi. Namun masker samacam itu memiliki kekurangan, yakni tidak menutupi wajah, sehingga kurang efektif dalam menyaring partikel udara kecil.

"Pada tahun 1918, siapa pun di rumah sakit darurat di Boston yang melakukan kontak dengan pasien harus mengenakan masker wajah improvisasi. Ini terdiri dari lima lapis kain kasa yang dipasang pada kerangka kawat yang menutupi hidung dan mulut. Bingkai itu dibentuk agar sesuai dengan wajah pemakainya dan mencegah filter kasa menyentuh mulut dan lubang hidung," tulisnya.

Maske itu diganti setiap dua jam sekali, dan disterilkan dengan benar dan dengan kasa segar.

"Mereka adalah cikal bakal respirator N95 yang digunakan di rumah sakit hari ini untuk melindungi staf medis terhadap infeksi yang ditularkan melalui udara," tambahnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya