Berita

Presiden KSPI, Said Iqbal (kanan)/RMOL

Politik

Omnibus Law Ubah Uang Pesangon Jadi JKP, KSPI: Itu Mah Akal-akalan Pemerintah

RABU, 11 MARET 2020 | 17:23 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Salah satu materi Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) yang disusun menggunakan metode omnibus law kembali dikritik Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

Adapun materi yang disoroti terkait uang pesangon yang diatur di dalam Undang-Undang (UU) 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Di mana beleid ini akan dihapus dan atau digantikan dengan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Presiden KSPI, Said Iqbal menyatakan, perubahan uang pesangon menjadi JKP hanya cara pemerintah meminimalisir ongkos belanja perusahan dari segi pembayaran upah kerja.


"Pemerintah seolah-olah ngasih sesuatu yang baru, yang namanya jaminan kehilangan pekerjaan (JKP). Itu mah akal-akalan pemerintah," kata Said Iqbal dalam jumpa pers di Hotel San Pacific, Jalan MH Thamrin, Jalarta Pusat, Rabu (11/3).

Dalam omnibus law RUU Ciptaker, Said Iqbal menyebutkan, uang pesangon buruh akan dikurangi 15 persen. Kemudian, uang pengahargaan atau prestasi selama masa kerja juga diturunkan.

"Secara bersamaan kita, anda, saya, kami, siapa pun yang bekerja, punya perintah kerja, punya hubungan kerja, kita semua terancam," lanjut Said Iqbal.

Said melanjutkan, terdapat beberapa dampak yang akan dirasakan buruh jika beleid ini disahkan.Pertama, buruh akan menanggung sendiri uang pesangonnya, karena sistemnya sudah diubah menjadi JKP. Kedua, kepastian waktu kerja buruh juga tidak jelas karena perusahan bisa seenaknya memecat karyawan tanpa harus membayar uang pesangon.

"Kalau dulu pesangon yang bayar siapa? Udah pasti pengusaha, buruh tinggal terima. Kalau jaminan kehilangan pekerjaan (JKP) buruh yang bayar iuran. Masak kita membayar diri kita sendiri yang dipecat," demikian Said Iqbal.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya