Berita

Pasien corona/Net

Kesehatan

RS Rujukan Corona Hanya 132, Pemerintah Diminta Jangan Abai Dengan RS Lain

RABU, 11 MARET 2020 | 09:16 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Beberapa hari lalu, publik dibuat heran dengan tim petugas kesehatan dari RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya, Jawa Barat yang menggunakan jas hujan saat menjemput pasien dalam pengawasan (PDP) karena mengaku tidak memiliki baju hazmat.

Alhasil, publik semakin mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menangani wabah virus corona baru (Covid-19), di mana saat ini jumlah kasus di Indonesia sudah mencapai 27 orang.

Walaupun Kementerian Kesehatan mengungkapkan stok baju hazmat di Indonesia masih banyak. Namun, sebuah laporan dari media asing menyatakan, rumah sakit-rumah sakit di Indonesia khawatir dengan kurangnya stok alat pelindung diri tersebut.


Kekhawatiran yang besar sendiri dirasakan oleh para rumah sakit yang bukan menjadi rujukan pasien corona.

Saat ini, total rumah sakit di seluruh Indonesia ada 2.800, namun tidak semua rumah sakit memiliki peralatan yang lengkap untuk menangani pasien corona. Terlebih prioritas pemerintah saat ini hanya 132 rumah sakit rujukan.

Misalnya saja Rumah Sakit Dr Zubir Mahmud di Aceh. Direktur Fasilitas Kesehatan Umum rumah sakit tersebut, Dr Edi Gunawan mengungkapkan stok masker bedah di sana sudah menipis. Selain masker, mereka juga tidak memiliki baju hazmat, kacamata, dan pemindai suhu.

"Kami telah meminta masker kepada pemasok kami, tetapi mereka meminta maaf dan mengatakan mereka juga tidak memiliki stok," katanya kepada CNA.

Di Provinsi Aceh yang memiliki penduduk sekitar 5,2 juta orang, hanya dua rumah sakit yang ditunjuk sebagai rujukan pasien corona.

Kendati begitu, Edi mengungkapkan, pemerintah tidak boleh mengabaikan rumah sakit lain yang bukan menjadi rujukan. Karena ketika rumah sakit tersebut mendapatkan pasien corona, mereka tidak boleh menolaknya dan harus siap untuk memberikan perawatan dasar.

“Pemerintah seharusnya tidak hanya memberikan bantuan dan peralatan ke rumah sakit rujukan. Rumah sakit lain tidak diperbolehkan menolak pasien. Jika staf kami tidak memiliki peralatan pelindung yang memadai untuk menangani pasien yang dicurigai, mereka akan takut dan panik juga," ungkapnya.

Selain rumah sakit non-rujukan pasien corona, rumah sakit rujukan juga ternyata punya kekhawatiran yang kurang lebih sama.

Rumah Sakit Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat, misalnya. Sebagai rumah sakit yang sudah berpengalaman dalam menangani penyakit menular seperti flu burung dan MERS, RS Gunung Jati tetap masih memiliki kekhawatiran.

Dikatakan oleh Direkturnya, Dr. Ismail Jamalludin, mereka sudah kehabisan kacamata pelindung dan hanya memiliki enam tempat tidur di ruang isolasi.

Demikian pula dengan Kepala Penyakit Infeksi di Rumah Sakit Dr Saiful Anwar, Dr Didi Candradikusuma. Didi mengatakan mereka memiliki keterbatasan stok baju hazmat.

"Untuk peralatan umum seperti sarung tangan dan masker yang kami gunakan secara rutin, persediaan kami harus mencukupi untuk empat bulan ke depan," kata Didi kepada CNA.

Untuk mengatasi kekhawatiran para rumah sakit, setiap rumah sakit tersebut mengaku telah mengirim pemberitahuan kepada departemen kesehatan dan provinsi terkait.

Sementara menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit di Indonesia, Lia Partakusuma, rumah sakit non-rujukan lebih baik mempersiapkan diri dengan tidak menunggu bantuan dari pemerintah.

“Rumah sakit non-rujukan lainnya diminta untuk mempersiapkan diri dan tidak menunggu bantuan dari kementerian. Memang benar bahwa tidak setiap rumah sakit memiliki cukup alat pelindung. Kami mencoba memberi tahu mereka di mana harus membeli peralatan, sementara kementerian memasok stoknya ke rumah sakit rujukan, ”kata Lia.

Selain itu, Lia juga mengatakan tidak setiap pasien dengan gejala corona harus dirawat. Rumah sakit bisa mengedukasi pasien untuk mengkarantina diri di rumah.

Untuk itu, Lia mengungkapkan, setiap rumah sakit di Indonesia harus siap menangani pasien corona.

“Kami telah memberi tahu setiap rumah sakit, apakah Anda rumah sakit rujukan atau tidak, Anda harus siap. Dan jika rumah sakit rujukan penuh, Anda harus menerima pasien (corona)," katanya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya