Berita

Ahok/Net

Politik

Alumni 212: Jokowi Harus Hati-hati Pilih Pemimpin IKN, Kasus Ahok Masih Diingat Umat

KAMIS, 05 MARET 2020 | 09:15 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Presiden Joko Widodo diharapkan tidak sekehendak hati memilih Kepala Otoritas Ibukota Negara (IKN) baru nantinya.

Ketua Aliansi Anak Bangsa (AAB), Damai Hari Lubis mengatakan, tidak adanya pemerintah daerah dan DPRD membuat Presiden Jokowi berpotensi sekehendak hati memilih Kepala Badan Otoritas IKN.

"Tentunya seharusnya tidak serta merta dapat memilih sekehendak hati atau suka-suka Jokowi saja, asas legalitas mesti ada, bukan sekadar legitimasi (kebijakan yang dipaksakan)," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (5/3).


Apalagi, kata Damai, Presiden Jokowi telah membocorkan empat nama yang menjadi calon Kepala Otoritas IKN nantinya. Mereka adalah Menristek Bambang Brodjonegoro; Dirut WIKA, Tumiyana; Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan mantan gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Seperti isu yang tersebar dari berita media, bahwa ada bakal semacam kebijakan presiden untuk memilih candidad CEO IKN, dan yang akan ditunjuk salah satunya adalah Ahok," jelasnya.

Terkhusus Ahok, Damai menilai bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu merupakan pribadi yang memiliki banyak masalah.

"Ahok masih perlu kejelasan hukum atas masa lalunya selaku wagub dan gubernur DKI periode sebelum Anies," katanya.

Selain itu, Damai menilai Ahok terpapar isu karakter dan trust terhadap korupsi. Apalagi, IKN nantinya berhubungan dengan pengelolaan anggaran pembangunan serta fasilitas di dalamnya.

Tidak cukup sampai di situ, Damai juga mengingatkan bahwa mantan narapidana penistaan agama itu merupakan sosok yang berperangai kurang baik kepada masyarakat kecil. Bahkan Damai yakin kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok sulit untuk dilupakan dari ingatan umat Islam.

"Umat juga masih punya catatan yang tidak dapat dipungkiri bahwa dia berstatus eks napi dan telah terbukti secara hukum menistakan ayat suci umat muslim," tutur alumni 212 itu.

Dengan demikian, Damai mempertanyakan apakah DPR menyetujui pemindahan Ibu Kota Negara dengan merevisi sistem regulasi yang ada atau tidak.

"Sekali lagi pendapat saya, apakah DPR RI sebagai wakil rakyat menyetujui kepindahan ibukota negara ini? Di antaranya setujukah merevisi beberapa sistem regulasi dan atau perundang-undangan yang masih mengikat," pungkasnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya