Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Indonesia Belum Layak Disebut Negara Maju

SELASA, 03 MARET 2020 | 04:15 WIB

BARU-baru ini ada sebuah berita mengejutkan, Indonesia berubah status menjadi sebuah negara maju. Dan ini membuat saya shock mendengarnya.

Tapi, dalam khalayan saya, Indonesia saat ini sudah sejajar dengan Jepang yang sudah membuat mobil Toyota, Honda, Korea dengan besutannya Hyundai, Jerman dengan Mercedez Benz mereka. Ataupun negara adi daya AS dengan produksi mereka GMC atau Ford.

Terlintas dalam benak saya apa alasan dan Amerika menyebut Indonesia negara maju. Dari GNP, GDP dari buying power atau selling power Indonesia sudah baik. Atau indikator apa apakah Human Developing Index (HDI), ataukah pendapatan per kapita kita masih mempihatinkan. World Bank yang diterima untuk kriteria â€œdeveloped country” adalah GNI per kapita-nya harus di atas 12.000 dolar AS, bukan berdasarkan besaran GDP karena yang diperhitungkan adalah daya beli masyarakatnya, bukan output ekonomi negaranya. GNI per kapita Indonesia bahkan belum tembus 4.000 dolar AS pada 2019. Jadi tentu saja kita masih jauh dan belum layak dianggap negara maju.


Begitu pula Human Global Index (HGI) masih kalah tertinggal. Baik smart industry, human capital, innovation ecosystem, innovation technology  industri digital,  Indonesia tertinggal jauh dalam hal inovasi dengan hanya menduduki peringkat ke-85 dari 129 negara.

Berbicara soal Global Innovation Index (GII) masih memprihatinkan. Pada 2019 duduk diposisi 85 dari 129 negara. Kondisi peringkat inovasi Indonesia sama seperti Malaysia yang posisinya juga stagnan. Hanya saja, Malaysia lebih unggul karena duduk di peringkat 35.

Begitu pula, Manufacture industry (industri manufaktur)  kita tak bisa bersaing. Coba bayangkan sea food saja belum bisa masuk pasaran Amerika, udang gagal tembus bahkan perikanan, biodiesel, rumput laut Mexico. Kelapa sawit tak bisa tembus Eropah.

Predikat yang diberikan Amerika terhadap Indonesia memang agak berat, lantaran tidak berbarengan dengan sistem teknologi tanah air. Mobil Esemka yang dibanggakan sejauh ini kurang jelas keberadaanya.

Indikator negara maju tidak mengoleksi motor bebek hanya ada motor gede alias Harley Davidson. Saat ini saja jumlah gojek 2,5 juta dari 119 juta kendaraan bermotor di Indonesia. Data BPS 2015 jumlah kendaraan bermotor 121 juta unit. Tahun 2019 berjumlah 162,2 juta unit.

Khusus di Jakarta, jumlah motor terus meningkat menjadi 13,3 juta unit pada 2016. Dengan rerata pertumbuhan 5,3 persen per tahun, jumlah sepeda motor diperkirakan mencapai 14 juta unit pada 2017 dan 14,74 juta unit pada 2018.

Untuk urusan pendidikan, Indonesia terlempar d peringkat 200 besar dunia. Bayangkan saja kita negara terbanyak penduduk di Asia Tenggara tapi soal pendidikan kalah jauh sama Singapura. Uniersitas National Singapura berada diperingat ke-11 dunia Tsing Hua (18). Meski anggaran APBN untuk pendidikan Rp2540 triliun untuk pendidikan cukup besar yakni 20 persen. Justru, defisit anggaran Rp300 triliun.

Saya condong melihat Indonesia dikeluarkan dari negara berkembang lantaran AS menghindari memberikan bantuan lagi ke Indonesia. Oleh sebab itu, bukan alasan Indonesia negara maju. Di negara maju telepon umum masih berlaku dan juga pos itu menjadi andapan mereka.

Berbeda dengan Indonesia yang mana telepon umum sudah tak berlaku lagi. Padahal ini sarana publik. Disinilah foreign and goverment policy Amerika dilakukan.
Indiktor negara maju lainya, Indeks Persepi Korupsi sangat rendah. Bagaimana mungkin dikatakan negara maju tapi korupsi merajalela.  Coba bayangkan korupsi Aparatur Sipil Negara (ASN) saja mencapai 3560 orang.

Belum lagi kasus Jiwasraya yang potensi kerugiannya mencapai Rp17 triliun, ASABRI Rp 10 triliun. Kasus bribery atau suap dan nepotisme di negara maju relatif kecil. Namun di Indonesia kasus ini sangat fantastis.
Human Developing Index (HDI) saja kita terlempar diposisi 111 dari 189 negara di dunia. Ini membuktikan kita masih jauh tertinggal alias kalah kelas dengan negara lain.

Negara tetangga kita Singapura saja peringkat HDI pada 2015 lalu diposii ke-22 dan thun 2019 diposisi ke-9 dunia. Lebih miris lagi  kita tertinggal dari Malaysia, Brunei dan Thailand. Kita pun masih kalah bersaing dengan Samoa, Maladewa, Andorra.
 
Sejatinya, predikat kita untuk jadi negara maju masih dipertanyakan. Tidak salah jika semua kriteria dan indikator ikut mendukung.

Sepengetahuan saya, negara maju di Asia Tenggara baru Singapura. Vietnam barangkali tahun 2025 baru. Untuk ke arah sana perlu persiapan matang.

Sementara jumlah peduduk miskin, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pun masih berada dikisaran 9,14 persen pada 2019 lalu atau sekitar 25,14 juta orang.

Itulah kondisi bangsa ini. Indonesia butuh berapa tahun lagi menjadi negara maju.

Jerry Massie
Penulis adalah Direktur Esekutif Political and Public Policy Studies (P3S)


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya