Berita

Kementerian Pertanian/Net

Politik

Hindari Kepentingan Politik, Proses Penerbitan RIPH Harus Dibuka Transparan Ke Publik

SENIN, 02 MARET 2020 | 15:15 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Proses penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) tidak boleh tercampuri kepentingan politik tertentu. Sekalipun menteri yang bersangkutan dalam penerbitan ini berasal dari partai politik.

Begitu tegas pengamat politik dari Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara yang meminta agar pemberian rekomendasi impor untuk komoditas bawang putih dan buah-buahan dibuka secara umum dan transparan.

"Jadi dalam proses RIPH bawang putih dan buah yang tidak terbuka bisa memungkinkan adanya kepentingan politik," ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/3).


Untuk itu, dia mendesak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk mengembangkan pertanian lokal sebagaimana pernah dijanjikan Presiden Joko Widodo.

Sementara jika terpaksa harus melakukan impor, maka harus dilakukan dengan setransparan mungkin. Kemendag sebagai pihak yang memberikan surat persetujuan impor (SPI) juga harus hati-hati.

“Harus ketat juga melakukan seleksi,” sambungnya.

Kecurigaan mengenai RIPH muncul lantaran hanya 10 importir yang mendapat RIPH bawang putih, padahal ada 100 pengajuan pada November 2019 lalu.

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Golkar Alien Mus sempat mengurai kejanggalan ini dalam rapat bersama Kementan. Dia mempertanyakan adanya satu perusahaan yang dominan jumlah impor buahnya ketimbang perusahaan lainn.

"Kementan baru mengeluarkan izin RIPH kepada 3 perusahaan yaitu Laris Manis Utama, Cherry Fruit, Karunia Alam Raya Sejati. Tapi di sini ada kejanggalan dari ketiga perusahaan tersebut ada 1 perusahaan yang betul-betul jumlah impornya melebihi lainnya," ujar di ruang rapat DPR, Jakarta, Senin lalu (17/2).

Sementara itu, Dirjen Holtikultura Kementan Prihasto Setyanto menepis pandangan tersebut. Menurutnya, pemberian RIPH dilakukan secara terbuka. Dia juga membantah ada konflik kepentingan dalam pemilihan importir.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya