Berita

Fahira Idris/Istimewa

Politik

Halau Corona Lebih Penting Dari Ekonomi Dan Investasi

MINGGU, 01 MARET 2020 | 02:05 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Hingga saat ini sudah ada 40 negara di dunia yang mengonfirmasi kasus virus corona baru (Covid-19) di wilayahnya masing-masing.

Kabar terbaru menyebutkan, negara-negara yang sebelumnya terbebas dari virus corona satu persatu mengkonfirmasi kasus corona. Mulai dari Selandia Baru, Nigeria, dan Lithuania.

Ini artinya, jangkauan virus corona semakin luas seiring berjalannya waktu. Semua negara harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk akibat meluasnya penyebaran virus asal Wuhan, China ini.


Terkait hal ini, anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, hampir semua negara saat ini sudah dan sedang memproteksi diri. Bahkan harus mengesampingkan kegiatan ekonomi, investasi, dan pariwisata demi menghalau agar virus corona tidak semakin banyak menginfeksi warganya.

Pasalnya, jika satu saja kasus infeksi virus corona ditemukan di sebuah negara maka potensi untuk virus ini menyebar luas sangat besar. Berbagai upaya dan sumberdaya termasuk anggaran mereka siapkan supaya mampu menghalau dan siap jika memang virus tersebut sudah masuk negaranya.

“Makanya sekarang fokus Indonesia itu harusnya bukan jorjoran keluarkan anggaran agar turis datang ke Indonesia, tetapi menyiapkan segala sesuatu baik itu hal yang substansi. Mulai anggaran, menajemen krisis, penyiapan alat pemeriksaan virus, kesiapan fasilitas kesehatan, sampai yang teknis misalnya saja mengantisipasi kelangkaan masker. Saya belum melihat Pemerintah membahas ini,” tukas Fahira Idris di Jakarta, Sabtu (29/2).

Senator Jakarta ini menyesalkan kebijakan pemerintah yang saat ini malah lebih berfokus mencari celah ekonomi di tengah kekhawatiran dunia akan pandemi virus corona baru (Covid-19). Salah satunya adalah memprioritaskan guyuran anggaran promosi wisata agar wisman yang batal mengunjungi China, Korea, atau Jepang (negara yang sudah terinfeksi virus corona) datang ke Indonesia.

“Kita mau promosi seperti apa dan ke siapa? 40 negara lebih sudah terinfeksi. Negara-negara tersebut pasti mengeluarkan kebijakan pembatasan agar warganya tidak berpergian ke luar negeri dan membatasi masuknya warga negara asing ke negaranya," tegas Fahira.

"Saya rasa promosi pariwisata itu pekerjaan yang sia-sia. Promosi wisata boleh, tapi nanti setelah virus ini benar-benar bisa dikendalikan. Saya dan mungkin banyak masyarakat bingung melihat pola pikir Pemerintah saat ini,” imbuh Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR ini.

Menurut Fahira, belum ditemukannya satu pun kasus virus corona di Indonesia justru harus dimanfaatkan Pemerintah dengan baik. Terutama untuk seefektif mungkin mempersiapkan segala sesuatu dalam memformulasikan dan mengimplementasikan strategi agar virus corona sama sekali tidak masuk ke Indonesia.

Kemudian, mempersiapkan dengan matang dan komprehensif jika nanti benar-benar ditemukan kasus virus corona di Indonesia.

Tentu saja, sambung Fahira, rakyat Indonesia selalu berdoa agar tidak ditemukan kasus corona di tanah air, meski sesuai penjelasan WHO, tidak ada satu pun negara yang kebal virus corona.

Oleh karena itu, sekali lagi, sebelum terlambat, Pemerintah harus bergerak cepat untuk mulai memformulasikan dan menyiapkan strategi menghalau virus corona. Pun menyiapkan strategi jika nanti ada ditemukan kasus corona di Indonesia.

“Dari segala sisi, terutama infrastruktur kesehatan, Singapura, Korea, dan Jepang itu lebih maju dari kita. Tapi lihat sekarang, mereka kewalahan menghadapi virus corona. Hal-hal teknis saja mulai dari kelangkaan masker, ketersediaan bahan makanan, mereka kewalahan menangani. Tantangan kita lebih besar. Wilayah luas, penduduk lebih besar, ditambah kesiapan infrastruktur kesehatan belum mantap,” demikian Fahira.  

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya