Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Tahun Tidak Adil

JUMAT, 28 FEBRUARI 2020 | 20:54 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NASKAH ini ditulis sehari sebelum tanggal 29 Februari 2020. Pada tahun lalu, 2019 maupun setahun lebih lalu lagi, 2018 serta bahkan setahun lebih lalu lagi, 2017, sama sekali tidak ada tanggal 29 Februari seperti pada tahun 2020.

Pada tahun depan, 2021 maupun lebih depan lagi, 2022 bahkan lebih lama lagi ke depan, 2023, juga tidak ada tanggal 29 Februari seperti pada tahun 2020.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana, yaitu sebab tahun 2020 adalah tahun kabisat.


Tambahan Satu Hari

Tahun kabisat merupakan tahun yang mengalami penambahan satu hari dengan tujuan menyesuaikan penanggalan dengan tahun astronomi.

Sebenarnya dalam satu tahun tidak secara pasti tepat terdiri dari 365 hari. Yang tepat adalah dalam satu tahun terdapat 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik.

Jika hal ini tidak dihiraukan, maka setiap empat tahun akan kekurangan hampir 1 hari (tepatnya 23 jam 15 menit 0,7256 detik). Dan jumlah kekurangan tersebut makin membesar dari tahun ke tahun apabila tidak dilakukan penyesuaian.

Demi mengkompensasi hal ini, setiap 4 tahun sekali sebagai tahun yang bisa dibagi 4, diberi tambahan satu hari ekstra pada bulan Februari. Maka hanya pada tahun kabisat saja hadirlah tanggal 29 Februari. 

Kalender


Konon kalender China dan Yahudi menggunakan 19 tahun untuk 7 bulan dalam 19 matahari. Kenapa begitu? Maaf, akibat hanya manut kata orang saja tanpa bisa menjelaskan kenapa begitunya, maka saya menggunakan kata“konon”.

Konon, dalam tahun kabisat kalender China menambah 1 bulan (30 hari) yang disebut Lun sedangkan Yahudi 1 bulan (30 hari) pada tahun Adar.

Kalender Hijriyah menggunakan dasar revolusi bulan terhadap matahari. Lamanya waktu bulan mengelilingi bumi 29,5 hari dibulatkan menjadi 29 dan 30 hari. Sehingga dalam satu bulan dalam kalender hijriyah ada 29 atau 30 hari.

Selain mengelilingi bumi, bulan juga mengitari matahari bersama dengan bumi. Dalam 29,5 hari atau 1 bulan  mengelilingi bumi saat itu posisi bumi juga berevolusi terhadap matahari selama 29,5 hari atau kita sebut 1 bulan.

Sehingga lama waktu bulan mengelilingi matahari adalah 12 bulan atau 29,5 hari kali 12 = 354 hari sedangkan pada tahun kabisat jumlah dalam 1 tahun dalam kalender hijriyah adalah 355 hari.

Tidak Adil

Tidak terasa ketidak-adilan pada tahun kabisat, apabila kita dilahirkan bukan pada tanggal 29 Februari. Jika kebetulan dilahirkan pada tanggal 29 Februari maka langsung kita merasakan bahwa tahun yang disebut kabisat itu tidak adil.

Misalnya kita dilahirkan pada tanggal 29 bulan Februari tahun 1920 sebagai tahun kabisat sebab bisa dibagi 4 maka pada tahun 1921 sebagai bukan tahun kabisat kita tidak bisa merayakan hari kelahiran karena tahun 1921 akibat bukan tahun kabisat maka tidak memiliki tanggal 29 Februari.

Sama halnya dengan tahun 1922 dan 1923 yang keduanya bukan tahun kabisat maka juga tidak memiliki tanggal 29 Februari .Baru pada tahun 1924 sebagai tahun kabisat sebab bisa dibagi 4 maka horeeeee yang dilahirkan pada tanggal 29 Februari memperoleh kesempatan untuk merayakan hari kelahiran.

Pada hakikatnya kita-kita yang dilahirkan pada tanggal 29 Februari sebenarnya bisa dibilang relatif kurang happy sebab tidak bisa setiap tahun dinyanyikan lagu Happy Birthday.

Hanya empat tahun sekali lagu Happy Birthday atau tiup lilinnya rame-rame dinyanyikan untuk kita-kita yang dilahirkan pada tanggal 29 Februari. Maka dapat disimpulkan bahwa tahun kabisat merupakan tahun tidak adil terhadap mereka atau kami yang dilahirkan pada tahun tidak adil tersebut.

Bagi yang tidak setuju kesimpulan tersebut silakan protes ke pembuat kalender yang menghadirkan tahun kabisat.

Penulis pembelajar kalender sebagai upaya manusia menghitung hari

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya