Berita

Surya Paloh dan Bambang Soesatyo/Net

Publika

Korporatokrasi

SENIN, 24 FEBRUARI 2020 | 09:15 WIB

IDEOLOGI dan konstitusi ambruk saat ini. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawarayan Perwakilan tidak terwujud. MPR sebagai lembaga tertinggi menurut UUD 1945 telah rontok kekuasaannya dibuldozer Amandemen.

MPR menjadi "neben" dengan presiden. Meski secara teori hukum tata negara masih ada DPR dan DPD, namun dalam praktiknya DPR itu lemah apalagi DPD.

DPR sebagai konfigurasi kekuatan partai politik terbawa dalam arus dukungan dan kebersamaan dengan presiden. Konsekuensinya peta kekuatan politik DPR subordinat presiden. Pengawasan bersifat gradual tidak fundamental. Presiden memiliki posisi yang kuat, meskipun mungkin saja kapasitas figur bisa lemah.


Problema terbesar adalah support korporasi pada keterpilihan presiden dan support tersebut berkonsekuensi pada ketergantungan. Ini adalah benih korporatokrasi yang telah menggeser asas demokrasi permusyawaratan sebagai amanat Ideologi dan konstitusi. Sulit untuk menyangkal saat ini sistem pemerintahan kita adalah oligarkhi dan korporatokrasi.

Dua petinggi negara atau partai yang dikenal sebagai "orang dalam" menguak fakta ini.

Pertama adalah Surya Paloh yang berpidato "keras" di depan civitas academica Universitas Indonesia. Negara Indonesia telah menjadi negara kapitalis dan liberalis ungkapnya. Kekuatan kapital menentukan jabatan jabatan politik. Artinya kekuasaan ditentukan oleh kekayaan. Sumber kapitalisme adalah korporasi.

Kedua, ucapan Bambang Soesetyo, Ketua MPR, politisi Partai Golkar, koalisi presiden. Menurutnya, untuk menjadi ketua umum sebuah parpol ia harus mendapat dukungan dana Rp 1 triliun. Ditarik ke belakang dipastikan peran pemilik korporat yang ikut bermain. Beberapa pemerhati mensinyalir peran para taipan, penguasa ekonomi negara.

Fenomena menguatnya korporatokrasi adalah lumpuhnya lembaga anti riswah KPK melalui revisi UU KPK. Kekuasaan Dewan Pengawas yang besar dapat menjadi kepanjangan tangan presiden. Korupsi selalu dicirikan dengan  kerjasama antara pejabat dengan pengusaha.

Ditambah dengan penghancuran banyak undang undang yang "dilibas" oleh apa yang dikenal dengan omnibus law. Omnibus law dibuat lebih untuk memperkuat posisi  investor atau pengusaha. Omnibus law perpajakan juga berorientasi pada investasi.

Negara Indonesia dalam bahaya. Demokrasi sedang babak belur. Pancasila yang gencar didengungkan justru untuk menutupi perilaku yang menyimpang dari Pancasila. Konstitusi yang menjadi benteng menjadi tafsir dominan  mengokohkan posisi korporasi.

Para pengusaha besar menjadi pengendali negara.

Korporatokrasi (corporate state) cenderung membentuk negara kriminal (criminal state) yang ditandai oleh kejahatan kerah putih (white collar crime), kejahatan terorganisasi dalam bentuk sindikat atau mafia, serta kejahatan perusahaan negara yaitu BUMN sebagai perahan politik.

Indonesia dalam bahaya. Bergerak terus menuju negara kriminal.

M Rizal Fadillah

Pemerhati Politik

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya