Berita

Dradjad Wibowo/Net

Politik

Cukai Minuman Berpemanis, Dradjad Wibowo: Selama Untuk Kesehatan, Rencana Sri Mulyani Perlu Didukung

JUMAT, 21 FEBRUARI 2020 | 01:17 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Rencana Menteri Keuangan Sri Mulyani menaikkan harga cukai minuman berpemanis menuai polemik.

Sri Mulyani berdalih menaikkan cukai minuman berpemanis untuk mengurangi angka kematian akibat diabetes.

Pakar ekonomi, Dradjad Wibowo menyampaikan, Sri Mulyani adalah anggota Gugus Tugas Kebijakan Fiskal Bagi Kesehatan atau The Task Force On Fiscal Policy For Health dari Bloomberg Philanthropies (BP).


BP adalah yayasan sosialnya Michael R. Bloomberg, salah satu orang terkaya AS yang sekarang maju sebagai salah satu kandidat Capres dari Partai Demokrat dalam Pilpres 2020.

Selama Agustus 2016-November 2019, Bloomberg ditunjuk sebagai Duta Global WHO untuk penyakit tidak menular (PTM) dan cidera.

Kategori PTM diantaranya penyakit diabetes, kardiovaskular (jantung), kanker dan pernafasan kronis.

Dalam tugasnya sebagai duta global WHO ini, Bloomberg melalui BP membentuk Gugus Tugas. Dia menjadi Ketua bersama dengan Lawrence H. Summers yang pernah menjadi Menkeu AS dan Kepala Ekonomi Bank Dunia.

Pada April 2019 Gugus Tugas tersebut menerbitkan laporan “Health Taxes To Save Lives”.

Laporan ini mengklaim, 50 juta kematian dini dapat dicegah jika pajak, cukai atau pungutan terhadap rokok, alkohol dan minuman bergula (pemanis) dinaikkan sehingga harga mereka naik 50 persen selama 50 tahun ke depan.

Dalam penilaian Dradjad, rencana Sri Mulyani bisa jadi sebagai implementasi dari program Gugus Tugas BP tersebut.

“Menkeu Sri Mulyani sudah menaikkan cukai rokok. Sekarang dia juga akan menaikan cukai bagi pemanis / minuman bergula. Jadi jelas terlihat bahwa Menkeu melaksanakan kesimpulan dari laporan Gugus Tugas di atas,” ujar Dradjad kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (20/2).

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini mendukung penuh pemerintah atas kebijakan tersebut selama mampu mengedepankan kesehatan masyarakat.

“Secara moral saya mendukung inisiatif bagi kesehatan masyarakat yang dilakukan Bloomberg. Apalagi studi S2 saya itu mengambil spesialisasi ekonomi kesehatan, di mana saya mengambil kasus pencegahan penyakit menular,” tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya