Berita

Karni Ilyas/Net

Publika

Serangan Pada Karni Ilyas Gunakan Akun Palsu

KAMIS, 20 FEBRUARI 2020 | 20:16 WIB

PADA 19 Desember 2019, saya memoderatori diskusi di Kantor Kemkominfo Jakarta. Temanya: Refleksi Pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik 2019. Penyelenggaranya Komisi Informasi Pusat (KIP) bekerja sama dengan Kemkominfo.

Hadir seluruh Komisioner KIP, Gede Narayana, Cecep Suryadi dan tim, juga para petinggi Kemkominfo, Rosarita Niken Widiastuti, Bambang Sigit Nugroho dan jajarannya, serta 70-an wartawan.

Yang mengagetkan, saat pengumuman penghargaan untuk “Media yang Telah Berkontribusi dalam Mendorong Keterbukaan Informasi Publik,” nama media yang pertama kali disebut adalah Tempo, kemudian Kompas, TVOne, Metro TV, Radio Elshinta, RRI, Detik, dan Tribunnews. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Sekjen Kemkominfo dan Ketua Komisi Informasi Pusat.


Di depan forum saya komentari begini, “Saya pikir semua orang pemerintah enggak suka sama Tempo, rupanya saya salah. Saya pikir RRI masih seperti zaman orde baru, rupanya banyak juga berita RRI yang mengkritisi pemerintah, RRI telah menjadi Radio Rakyat Indonesia. Selamat untuk RRI.”

Hari ini saya kaget lagi, sejak kemarin Rabu 19 Februari 2020 hingga saat saya menulis ini, terus beredar foto lama Karni Ilyas di sebuah cafe. Ada empat orang dalam foto tersebut, tiga laki-laki termasuk dan seorang perempuan.

Foto itu digunakan untuk menyerang Karni Ilyas dengan cara; memotong foto sehingga seolah hanya Karni Ilyas dengan seorang perempuan muda, memposting foto dengan caption menyudutkan, membuat artikel di website, membuat poster, meme, video dan konten-konten lain untuk mematikan karakter Karni Ilyas. Serangan juga ditujukan pada anggota keluarga Karni Ilyas.

Setelah mempelajari pola dan isi konten yang digunakan, saya melihat tujuan serangan ini antara lain, agar tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) tidak lagi mengkritik pemerintah dan manajemen TVOne memecat Karni Ilyas. Kedua, ILC tidak mengundang narsum yang mengkritik pemerintah. Ketiga, supaya tema ILC sesuai dengan keinginan mereka.

“Mereka” yang saya maksud sebagian besar adalah akun-akun media sosial yang selama ini hanya mau mengonsumsi, menyebarkan berita-berita bagus tentang pemerintah.

Ada beberapa akun asli, namun kebanyakan akun palsu. Padahal hampir di setiap forum orang-orang pemerintah mengatakan “kami butuh kritik” atau “tanpa perdebatan tidak akan lahir solusi radikal, tanpa perdebatan tidak muncul peradaban luhur”.

Apakah mereka lupa kalau Pancasila itu lahir dari perdebatan-perdebatan sengit yang dimulai dan ditutup dengan doa.

Beberapa tema ILC juga dicurigai menghambat investasi, sementara pernyataan “Musuh terbesar Pancasila adalah Agama” yang memicu kegaduhan luput dari kritik saudara-saudara kita ini. Justru tayangan ILC dan konten di banyak media berhasil mendudukkan persoalan, sehingga kegaduhan berhenti.

Sebenarnya protes, kecaman ke ILC ini tidak hanya dilakukan akun pendukung pemerintah, akun oposisi pun banyak yang tidak puas dan marah-marah pada ILC.

Usut punya usut, ini rupanya karena berlebihan dalam mengidolakan seseorang. Di Kampus UI Depok, saya pernah diperlihatkan cover-cover majalah Tempo, banyak yang positif tentang Jokowi dan Ahok. Namun sekali majalah Tempo membuat cover menyindir, segera muncul serangan kepada Tempo dari segala penjuru. Jelas terlihat ada koordinasi dan mobilisasi dalam serangan itu.

Khusus untuk tayangan ILC atau dialog-dialog publik lainnya, pemerintah hanya perlu mencari jurubicara baru yang lebih sabar, smart dan segar. Orang sabar dan smart mungkin terlihat kalah berdebat di layar televisi, tapi kesabarannya bisa memenangkan hati publik. Tidak baik kalah berdebat kemudian temanya yang disalahkan, apalagi host-nya difitnah.

Pengkritik itu beda dengan pembenci. Bahkan, kritik adalah kesempatan untuk memberikan jawaban terbaik untuk melakukan simetrisme informasi, dan meraih dukungan otentik dari publik.

ILC dan media menyediakan panggung untuk para jubir pemerintah dan oposisi. Masyarakat tinggal menilai siapa yang berkualitas, yang digaji atau yang tidak digaji, yang punya anggaran atau yang tidak punya anggaran.

Di era digital dimana media banyak gulung tikar karena kue iklan beralih ke media sosial, kita bersyukur masih banyak media memegang teguh idealismenya. 2014-2019, partai oposisi cukup kuat mengawasi kekuasaan. 2020-2024 ini, salah satu harapan terbesar kita untuk mengawasi kekuasaan ada pada media dan media sosial.  

Yakinlah, kritik pedas itu justru menyelamatkan tokoh idola kita dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Mari letakkan kepentingan nasional di atas kepentingan tokoh idola kita. “Usia negara panjang, usia tokoh idola kita maksimal 100 tahun”.

Hariqo Wibawa Satria
Penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; pengamat media sosial dari Komunikonten

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya