Berita

Dubes Wahid dan Menlu Rusia Sergey Lavrov/KBRI Moskow

Dunia

Dubes Wahid Apresiasi Peran Besar Rusia Pada Awal Kemerdekaan Indonesia

KAMIS, 06 FEBRUARI 2020 | 07:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pameran arsip dalam rangka peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia sukses diselenggarakan di Jakarta. Menyusul kemudian Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia menyelenggarakan pameran serupa, di Moskow.

Pameran yang dibuka oleh Menteri Luar Negeri Federasi Rusia, Sergey Lavrov ini dihadiri oleh para pejabat negara, di antaranya Senator Liliya Gumerova dan anggota Majelis Tinggi Dewan Federal Federasi Rusia yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Sama antara Majelis Tinggi Dewan Federal Federasi Rusia dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Lalu hadir Wakil Menlu Rusia Igor Morgulov dan pejabat Kemlu Rusia lainnya, perwakilan Kementerian dan Lembaga Rusia, Duta Besar negara-negara ASEAN di Moskow, serta para diplomat dan veteran dinas diplomatik Rusia.
Dalam sambutannya, Lavrov mengatakan pameran ini berisikan materi-materi kekayaan sejarah hubungan diplomatik kedua negara.

Dalam sambutannya, Lavrov mengatakan pameran ini berisikan materi-materi kekayaan sejarah hubungan diplomatik kedua negara.

“Sejak 1950, hubungan antara Rusia dengan Indonesia berkembang dengan dinamis di berbagai bidang, seperti politik, ekonomi dan perdagangan, sosial budaya serta teknik militer,” ujar Lavrov.

Kedekatan hubungan kedua negara ini jugalah yang kemudian menciptakan penyelenggaraan tahunan Festival Indonesia di Moskow dan kegiatan-kegiatan budaya Rusia di Indonesia menjadi tradisi yang baik.

“Dengan potensi yang dimiliki, kedua negara dapat lebih mengembangkan hubungan pada tingkat yang baru, yaitu kemitraan strategis,” terang Lavrov.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi, mengapresiasi hubungan kedua negara yang semakin meningkat.

"Peran Rusia dalam pembangunan Indonesia pada awal-awal setelah kemerdekaan Indonesia sangat besar," kata Wahid, dalam keterangan resmi yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (5/2).

Ia juga menegaskan, pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Joko Widodo dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong peningkatan hubungan kedua negara dan berharap tradisi pertemuan presiden kedua negara dapat terus berlanjut. 

Dokumen pengakuan Uni Soviet terhadap kedaulatan Republik Indonesia dan keinginan Uni Soviet untuk membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia, terpampang di pameran itu.

Lalu, keinginan Indonesia untuk membuka Kedutaan Besar di Moskow dan dokumen balasan Moskow kepada Jakarta juga dipamerkan.  Dan pada 1954 kedua negara telah merealisasikan pembukaan Kedutaan Besar tersebut.

Di antara foto-foto yang dipamerkan adalah foto DR. Subandrio seusai penyerahan Surat Kepercayaan kepada Kliment Voroshilov pada bulan April 1954, kunjungan Presiden Soekarno ke Moskow tahun 1956, kunjungan Nikita Khruschev ke Jakarta tahun 1960,  dan masih banyak lagi.

Mantan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Vladimir Plotnikov, yang pernah bertugas semasa 1999-2004, juga terlihat hadir. Ia berkisah, telah lama Uni Soviet dan Indonesia berusaha menjalin kerja sama yang lebih erat di berbagai bidang, seperti sipil, militer, dan perindustrian. Ada beberapa proyek pembangunan Uni Soviet di wilayah Indonesia, seperti di Pulau Kalimantan dan Jawa.

“Saya masih ingat proyek-proyek ini, misalnya jalan Palangkaraya-Tangkiling yang sekarang dipakai di Kalimantan Tengah,” kenang Plotnikov.

Ia pernah tinggal di Indonesia lebih dari 20 tahun. "Indonesia negara kedua saya," katanya penuh rindu.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya