Berita

Proyek listrik 35 ribu megawatt masih jauh dari target/Net

Bisnis

Proyek 35 Ribu Megawatt Baru 19 Persen, Demokrat: Yang Penting Kita Tidak Kekurangan Listrik

SELASA, 04 FEBRUARI 2020 | 10:58 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Proyek setrum 35 ribu megawatt yang jadi program unggulan Presiden Joko Widodo di periode pertama pemerintahannya masih jauh dari target. Hingga 31 Desember 2019, pemerintah baru merealisasikan 19 persen atau sekitar 6.811 megawatt.

Menurut anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Demokrat, Herman Khaerun, belum tercapainya target pemerintah dalam merealisasikan listrik ke seluruh pelosok Indonesia dalam proyek 35 ribu megawatt disebabkan faktor ekonomi domestik dan global.

“Situasi ekonomi domestik dan global tentu berpengaruh juga terhadap iklim investasi dalam negeri,” ucap Herman kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (4/2).


Selain itu, kebutuhan listrik di Indonesia hanya tumbuh kurang lebih 5 persen. Hal itu, kata Herman, menjadi aspek teknis yang harus ikut diperhitungkan.

Karena, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 143K/20/MEM/2019 tentang rencana umum ketenagalistrikan nasional tahun 2019 sampai dengan 2038, memproyeksikan rata-rata pertumbuhan energi listrik nasional sekitar 6,9 persen per tahun.

Nah, proyeksi tersebut akan tercapai apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen, rata-rata inflasi 3,5 persen, rata-rata pertumbuhan penduduk sekitar 0,8 persen, dan asumsi target rasio elektrifikasi 99,9 persen.

“Menurut saya memang terlambat dari target, dan ada kecenderungan melambat pencapaianya,” imbuhnya.

Herman menambahkan, target penambahan pembangkit dalam proyek 35 ribu megawatt ini tak hanya bergantung kepada pertumbuhan kebutuhan, tapi juga adanya investasi.

“PLN juga tidak bisa sendiri untuk melakukan pengembangannya, butuh investor. Oleh karenanya secara bertahap suatu saat akan tercapai, karena harus sejalan antara kebutuhan dan adanya investor,” tuturnya.

Sesuai dengan asumsi proyeksi listrik, target tersebut akan cepat tercapai apabila pertumbuhan ekonomi tinggi.

“Mungkin di antara 6-7 persen (pertumbuhan ekonomi), sehingga permintaan kebutuhan listrik juga tinggi,” imbuhnya.

“Yang penting saat ini kita tidak kekurangan listrik, energy primer tersedia, PLN tidak rugi, dan pengembangan terus berjalan,” tandasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya