Berita

Foto: Net

Publika

Politik Markonah

MINGGU, 26 JANUARI 2020 | 19:15 WIB | OLEH: TRIAS KUNCAHYONO

BENARLAH kiranya yang ditulis oleh R.Ng Ranggawarsita (1802-1873) dalam Serat Kalatidha. Kata 'Kala' berarti zaman dan 'Tidha' adalah ragu. Berarti zaman penuh keraguan. Akan tetapi, banyak yang mengartikan "Kalatidha adalah zaman edan.” Pengertian “zaman edan” itu mengambil makna dari bait ketujuh dari 12 bait yang ada dalam serat berbentuk tembang Sinom ini.

Serat yang kira-kira ditulis pada tahun 1860-an, membicarakan runyamnya zaman perubahan, Zaman Edan, atau Zaman Kala Bendu, atau Kala Tidha. Salah satu cuplikan karya sastra tembang "Sinom" dalam Serat Kalatida sangat bernada moralistik sekaligus sarkasme, cemoohan.

Bait ketujuh dari Serat Kalatidha berbunyi demikian:


amenangi zaman édan, (mengalami zaman gila)
éwuhaya ing pambudi, (serba susah dalam bertindak)
mélu ngédan nora tahan, (ikut gila tidak akan tahan)
mélu ngédan nora tahan, (ikut gila tidak akan tahan)
boya keduman mélik, (tidak akan mendapat bagian)
kaliren wekasanipun, (kelaparan pada akhirnya)
ndilalah kersa Allah, (namun telah menjadi kehendak Allah)
begja-begjaning kang lali, (sebahagia-bahagianya orang yang lalai)
luwih begja kang éling klawan waspada (akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).

Apakah sekarang ini, zaman edan? Mungkin banyak orang edan atau "ngedan."

Dahulu, menurut Sartono Kartodirdjo (1992), zaman yang tidak menentu seperti itu melahirkan Mitos Ratu Adil. Mitos itu muncul manakala masyarakat menghadapi perubahan-perubahan sosial yang besar.

Keresahan di depan perubahan dan kerisauan menghadapi masa depan yang tak pasti membuat orang mengharapkan Ratu Adil. Zaman Edan --zaman yang bergolak penuh perubahan --adalah pertanda bagi munculnya Akhir Zaman di mana saat itu sang Ratu Adil akan bertakhta untuk menyeimbangkan lagi segala sesuatu.

Istilah “Ratu Adil” --selain  istilah â€œHerucakra” dan “Zaman Edan”--adalah istilah yang merupakan ungkapan profetis. Istilah yang menggambarkan suatu kondisi tentang zaman yang dirasakan semakin merosot kualitasnya dan sekaligus mengungkapkan harapan akan datangnya penyelamat.

Dan, Sang Penyelamat itulah yang diharapkan akan membebaskan masyarakat dan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang adil, serta menciptakan kemakmuran, ketentraman, gemah ripah loh jinawi, tata titi lan tentrem.

Misalnya, menurut Purwadi (2004), “Ratu Adil” dapat ditafsirkan sebagai seorang yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ratu Adil juga dipahami sebagi pelindung atau pengayom dari seluruh masyarakat tanpa membedakan golongan dan tanpa keberpihakan kecuali hanya berpihak pada kebenaran hakiki yang bersifat universal.

Di masa lalu, menurut Sartono Kartodirdjo, ketika kondisi zaman sudah demikian buruk, bubrah, maka muncul pemberontakan-pemberontakan. Semua gerakan, di mana muncul pemberontakan itu umumnya dinyatakan sebagai gerakan juru selamat (mesianisme), gerakan ratu adil (milenarisme), gerakan kepribumian (nativisme), dan gagasan-gagasan perang suci.

Beberapa kasus pemberontakan petani antara lain peristiwa Cikandi Udik (1845), kasus Bekasi (1868), kasus Amat Ngisa (1871), pemberontakan Cilegon (1888), kerusuhan Ciomas (1886), pemberontakan Gedangan (1904) dan pemberontakan Dermajaya (1907). 

Contoh lain, menurut M. Tauchid (1953) adalah gerakan pemberontakan yang berkaitan dengan penggusuran tanah garapan maupun perkampungan rakyat oleh perkebunan Belanda (onderneming) di beberapa daerah di Jawa Barat mendapat perlawanan. Sejumlah sengketa pecah menjadi konflik terbuka, misalnya Peristiwa Langen di daerah Banjar, Ciamis (1905), Peristiwa Cisarua dan Koja, Plered (1913-1914), dan Peristiwa Rawa Lakbok, Ciamis (1930).

Mitos Ratu Adil itu tidak hanya ada di negeri ini. A Setyo Wibowo (2014) mensejajarkan ide tentang Ratu Adil dari Jawa dan Ratu Filsuf dari The Republic-nya Platon. Keduanya, konteks pembicaraannya mirip.

Wacana Ratu Adil menguat dan dimunculkan ketika suasana sosial politik membingungkan, meresahkan, dan penuh hal-hal negatif. Begitu pula, wacana Platon tentang Ratu Filsuf tidak bisa dilepaskan dari keresahannya menyaksikan pembusukan rejim demokrasi di Athena, Yunani, paa abad ke-5 SM.

Platon menggambarkan situasi itu sebagai “demokrasi yang anarkis”: relativisme moral (anak kehilangan sopan santun, orangtua tidak tahu lagi bagaimana menggunakan otoritasnya) dan relativisme hukum (toleransi terlalu besar kepada para pelaku tindak kejahatan, Undang-Undang saling bertabrakan, tumpang tindih).

Masyarakat menjadi anarchi, anarkis. Artinya, tanpa prinsip yang mengomando tatanan. Situasi buruk ini mendorong Platon menulis buku Poleteia (The Republic).

Dua figur ini --"Ratu Adil dan Ratu Filsuf--dianggap bisa menjadi solusi untuk mengakhiri zaman edan guna memasuki era yang lebih baik. Uniknya, dua figur pemimpin ini (Ratu Adil dan Ratu Filsuf) bukan pemimpin yang bisa ditelorkan begitu saja melalui serangkaian proses yang wajar. Intervensi dari Yang Ilahi dirujuk sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk kemunculan mereka.

Apakah zaman sekarang ini memenuhi syarat-syarat munculnya “Ratu Adil” (atau mungkin “Ratu Adil” malahan sudah muncul) atau lahirnya “Zaman Edan” seperti yang dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo, Purwadi, dan  juga Setyo Wibowo?

Mungkin, Zaman Edan; di mana banyak orang memegang prinsip mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik-- ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian. Banyak orang menjadi seperti kalimat bijak ini, avarus animus nullo satiatur lucro --"pikiran rakus tidak puas dengan keuntungan berapa pun; entah itu keuntungan ekonomi maupun politik atau keuntungan yang lain. 

Zaman memang sudah edan atau orang-orang di zaman ini yang edan. Atau dibuar seola-olah edan. Kadang drama dipentaskan lagi oleh sutradara yang berbeda.

Barangkali demikian yang melatari lahirnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo dengan Sinuhun Rangkai Mataram Agung sebagai raja dan Kanjeng Ratu Dyah Gitaraja sebagai permaisuri. Atau juga Sunda Empire yang mengklaim beranggotakan 54 negara, dan juga menyebut sistem pemerintahan di dunia akan dikontrol dari Bandung. Atau, konon, juga muncul di Klaten.

Atau mungkin semua itu sekadar mengulang yang dulu dilakukan oleh Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah yang membuat heboh pada 1950-an. Mereka mengaku sebagai penguasa dari Suku Kubu di pedalaman Jambi dan menemui Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Mereka mengaku bisa membantu pemerintah membebaskan Irian Barat.

Malahan menurut cerita selain mendapatkan sambutan dan jamuan istimewa, sang raja dan ratu memperoleh uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat  (Papua bagian barat). Soekarno pun memberikan mereka uang untuk menginap di hotel mewah dan makan gratis selama berminggu-minggu.

Itulah politik tipu-tipu gaya Markonah. Entah, apa sekarang ini berulang lagi dengan dalang yang berbeda?

Mungkin zaman seperti ini pula yang dulu pernah terjadi zaman Romawi sehingga seorang orator, ahli hukum, politisi, dan filsuf zaman Romawi, Cicero (106-43 SM) mengeluh, “O tempora, o mores,” dan Ranggawarsita menyebutnya sebagai “Zaman Edan.”

Artikel ini dimuat pertama kali di website TriasKun.Id, dimuat atas izin penulis.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya