Berita

Publika

Momentum Muhammadiyah

MINGGU, 26 JANUARI 2020 | 11:06 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

MOMENTUM merupakan salah satu kunci keberhasilan. Bisnis yang hadir pada momentum yang tepat akan sukses. Begitu pun sebaliknya.

Dua puluh tahun lalu, lahirlah sebuah portal web yang sangat terkenal: Astaga.com.

Kemunculan Astaga.com dengan corporate color ungu itu begitu fenomenal. Namun nasibnya kurang baik. Astaga.com tidak berkembang seperti yang diharapkan.


Hari ini portal Astaga.com masih bisa diakses. Namun desainnya berbeda. Update informasi terbaru dilakukan seminggu lalu. Tidak ada informasi apakah investor Astaga.com yang sekarang masih sama dengan Astaga.com waktu itu.

Apa pun, semua harus berterima kasih kepada Astaga.com.

Sayang, Astaga.com lahir pada waktu yang kurang tepat. Astaga.com lahir terlalu dini. Saat ekosistem bisnis digital belum siap.

Waktu itu jaringan internet belum sebaik sekarang. Belum ada e-money. SMS banking baru diperkenalkan. Mobile banking belum ada. Ojek online masih menjadi angan-angan.

***

Teknologi live streaming mulai digunakan publik tahun 2006. Jagaters, perusahaan saya, menjadi operator video conference untuk sidang jarak jauh di Mahkamah Konstitusi, tiga tahun kemudian.

Itulah fasilitas peradilan online pertama dan satu-satunya di Indonesia waktu itu. Sistem yang menghubungkan ruang majelis hakim di Jakarta dengan ruang sidang di 34 kampus universitas negeri dari Aceh hingga Papua. Dengan perangkat yang harganya begitu mahalnya.

Teknologi video conference terus berkembang. Didukung kemajuan teknologi telepon selular dan transmisi data yang kian hebat. Video conference mulai bisa digunakan masyarakat dengan perangkat sederhana: Telepon genggam yang begitu murah harganya.

Tahun 2016, perusahaan saya mulai membuat layanan webinar yang berbasis video conference itu, secara komersial. Dengan platform yang hanya bisa disewa dari agen pemasaran di Hong Kong dan Amerika Serikat.

Kapasitas webinar saat itu masih sedikit. Pilihannya hanya 10, 25, 50, dan 100 user. Tidak seperti sekarang: Bisa melayani hingga 10 ribu user. Bahkan sudah ada yang bisa melayani 40.000 user.

***

Pekan lalu saya mengunjungi sebuah madrasah tsanawiyah (MTs) swasta di Donggala, Sulawesi Tengah. Sekolah menengah tingkat pertama yang berdiri tak jauh dari Ibukota Kabupaten Donggala pada tahun 1962 itu sedang dalam kondisi sulit.

Sarana dan prasarana sekolah itu tergolong maju. Saat itu. Tapi sudah jauh ketinggalan pada masa kini.

Saya cek jaringan internet selular di sekolah itu. Bagus. Upload dan download-nya bagus. Sudah dalam layanan 4G LTE. Tapi tidak ada komputer di sekolah itu.

Dulu siswa di sekolah itu ratusan orang. Sekarang tersisa 33 orang. Dulu gurunya puluhan orang. Sekarang tersisa 11 orang. Itu pun berstatus sukrelawan.

Harap maklum. Sekolah ini menggratiskan seluruh biaya pendidikan. Operasional sekolah hanya mengandalkan dana BOS dari pemerintah. Nilainya Rp 1 juta per siswa per tahun.

Bagaimana Anda membayangkan sekolah ini bisa menggaji guru terbaik? Atau mendatangkan guru tamu?

Saya tahu. MTs di Donggala itu bukan satu-satunya. Mungkin ada puluhan ribu di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah itu perlu dibantu. Perlu dikirimi guru dan buku.

Kondisi MTs di Donggala sungguh kontras dengan fakta ini: Muhammadiyah memiliki sekitar 6.000 lembaga pendidikan dan sekitar 1.000 lembaga kesehatan. Mayoritas sudah maju.

Dengan segala kemajuannya, Muhammadiyah bisa menolong sekolah-sekolah kecil yang dhuafa. Melalui sistem pendidikan jarak jauh. Guru-guru terbaik yang mengajar di MTs Muhammadiyah Jogja mengajar juga di MTs Donggala dan ribuan MTs lain pada waktu yang sama.

Tentu Muhammadiyah tidak bisa melakukan sendirian. Pemerintah harus turun tangan. Melalui reformasi peraturan yang sesuai zaman. Sekaranglah momentumnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya