Berita

Eks Kimisioner KPU Wahyu Setiawan terjaring KPK/Net

Publika

Politik Indonesia Wadaw Wadidaw

JUMAT, 17 JANUARI 2020 | 03:15 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

CHEF Juna kerap berucap wadaw wadidaw, di acara masterchef. Koki bertato itu punya banyak penggemar. Wadaw wadidaw adalah bentuk ekspresi kekagetan dari situasi yang kacau balau.

Persis seperti itulah wajah politik kita. Berantakan, tidak ubahnya seperti dapur. Sebenarnya, dapur boleh berantakan, asalkan hidangan yang disajikan rasanya maknyus. Celakanya, dapur sudah porak poranda, rasanya pun ambyar.

Politik kita diisi para sad mbois. Publik pun broken heart tiada kepalang. Di awal pembuka tahun, berbagai skandal lamat-lamat terkuak. Salah satu yang mencuri perhatian adalah soal operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terkait dengan KPU, dan melibatkan kader PDIP.


Aktivitas kerja KPK tersebut, dengan segala dinamika dan kontroversinya, memberikan berbagai ilustrasi menarik. Gebrakan paska revisi UU KPK, menimbulkan persepsi berbeda di ruang publik. Apresiasi dilayangkan, dengan berbagai catatan.

Pada ranah politik, selepas periode tahun kontestasi yang sedemikian panas di 2019, ternyata tidak menghasilkan kualitas baru dari kerangka demokrasi politik. Demokrasi menjadi rentan dalam ruang gelap permainan elite, yang mengkooptasi kepentingan publik.

Apa maknanya? Politik kita berhenti ditahap prosedural. Partisipasi dan keterlibatan tercermin melalui kampanye dan mobilisasi suara. Hal tersebut tidak mencapai tujuan besar politik, yakni emansipasi publik. Politik menjadi tersandera dan menjadi alat kepentingan, bagi segelintir elite di pusaran kekuasaan.

Walhasil wadaw wadidaw, sebagaimana olahan dapur demokrasi, maka suguhan politik kita tampak manis di permukaan, tapi masam menuju busuk didalam.

Diskoneksi Elektoral

Fenomena ini dipotret dengan terang oleh Anwar Arifin, 2017, melalui Demokrasi dalam Ancaman dan Bahaya. Pada kajian tersebut, terjadi keterputusan proses demokrasi elektoral, dengan hasil yang diperolehnya. Harapan atas penuntasan persoalan dan masalah publik, bertepuk sebelah tangan.

Diskoneksi elektoral, dibagian ujungnya hanya menghasilkan 3B: Bandar, Bandit dan Badut. Polah tingkah aktor politik yang terpilih melalui hasil pemilihan, dengan segala laku geraknya, hanya bermain pada tataran politik di kulit permukaan.

Pada gilirannya, kepentingan publik dibajak oleh elite. Mewujud dalam bentuk oligarki, dimana kekuasaan, hanya berputar di lingkaran terbatas. Di sisi lain secara bersamaan, perasaan dan emosi publik terus diaduk-aduk, bukan karena afiliasi politik, justru lebih disebabkan atas keprihatinan hilangnya moral dan etika di ruang politik.

Konsekuensinya fatal. Distrust publik. Konstruksi kasus operasi KPK pada tindakan oknum KPU, menghadirkan gambaran, sulitnya mempercayai integritas para pejabat publik. Belum lagi menyoal objektivitas, bahkan tentang netralitas.

Di wilayah politik. Merujuk pada perihal kejadian di awal tahun ini, seolah mengilustrasikan kegagalan fungsi partai politik. Sejatinya, mekanisme kepartaian yang diidealkan -das sollen, menghadirkan diri sebagai sarana dalam: (1) penjaringan aspirasi, (2) agregasi dan kanalisasi kepentingan, (3) edukasi serta sosialisasi politik hingga (4) rekrutmen politik, secara keseluruhan terbilang ambyar.

Pada kenyataannya -das sein, rekrutmen tidak mempertimbangkan kompetensi, kualitas, bahkan rekam jejak kandidat secara solid. Popularitas mengalahkan loyalitas. Termasuk, kondisi dimana kader internal, bisa jadi dikangkangi kader karbitan yang datang dengan membawa modal isi tas.

Dengan begitu, kita mudah menebak, akan kemana muara dari tujuan kehadiran kandidat yang beroleh secara mudah kursi kekuasaan, dengan menggunakan cara-cara transaksi -buying vote. Politik menjadi instrumen investasi.

Logika dari skema demokrasi liberal ini, berprinsip pada konsep ekonomi, dimana asumsinya akan mengacu nilai imbal hasil dan keuntungan secara nominal dari kepentingan investor politik. Sirkulasi kapital terjadi, dalam upaya merebut dan mempertahankan kekuasaan. Partai politik terjebak pada pragmatisme bagi kekuasaan -office seeking.

Dengan seluruh situasi itu, demokrasi adalah barang ringkih. Kehilangan basis legitimasinya, yakni kepercayaan publik yang telah disalurkan melalui momen pemilihan. Pada kejadian awal tahun ini, publik wajib belajar. Wadaw wadidaw.

Yudhi Hertanto

Penulis menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Koperasi Berbasis Masjid Diharap Bangkitkan Ekonomi Lokal

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:02

Ramadan Momentum Menguatkan Solidaritas Sosial

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:44

Gerebek Rokok Ilegal Tanpa Tersangka, PB HMI Minta Dirjen Bea Cukai Dievaluasi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:21

Mudik Arah Timur, Wakapolri: Ada Peningkatan Volume Kendaraan Tapi Lancar

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:08

Rencana Libatkan TNI Berantas Terorisme Kaburkan Fungsi Keamanan dan Pertahanan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:46

Purbaya: Ramalan Ekonomi RI Hancur di TikTok dan YouTube Tak Lihat Data

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:21

KPK Tetapkan 2 Tersangka OTT di Cilacap

Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:58

Komisi III DPR Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38

AS Pastikan Harga Minyak Dunia Tak akan Tembus 200 Dolar per Barel

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:55

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:43

Selengkapnya