Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Politik Ambyar

SELASA, 14 JANUARI 2020 | 04:31 WIB

POLITIK tak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Siapapun menjalani hidup ini akan selalau bersinggungan dengan yang namanya politik. Sebab, politik adalah unsur penting dalam lahirnya sebuah kebijakan dan keputusan.

Politik sudah menjadi bagian inti dari masyarakat. Tanpa politik, negara ini juga tidak akan bisa mengatur berbagai urusan masyarakat. Mulai urusan rumah tangga hingga negara selalu berkaitan dengan politik.

Politik bergerak dinamis. Sebentar bilang sayang, besok berbalik menyerang. Politik memang penuh kejutan. Hal-hal remeh pun bisa dijadikan tameng untuk pencitraan. Semisal berswafoto di tengah bencana atau nyemplung di selokan demi meluluhkan hati rakyat agar memilihnya.


Politik itu dramatis layaknya drama Korea. Lawan bisa jadi kawan. Saat salah satu teman tersandung kasus kriminal, yang lain buang badan. Pagi sumringah, besoknya bisa tertangkap operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupso (KPK).

Politik itu sadis. Tak ada musuh abadi. Pun tak ada teman abadi. Jauh dekatnya pertemanan tergantung kepentingan yang ingin diraih. Tak ada suka duka ditanggung bersama. Sukaku suka kita, dukamu bukan dukaku. Begitulah hukum politik yang berlaku.

Politik itu putih abu-abu. Labil dan baperan bila menjadi penguasa. Marah-marah jika tak dapat jatah. Asal Bapak senang, rakyat pun dipaksa tersenyum getir menerkma kebijakan zalim penguasa.

Politik itu berdinasti. Anak, besan, ipar, adik, menantu juga bisa mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Mumpung masih berkuasa, dinasti itu harus dibangun sekuat istana. Politik itu oligarki. Dikuasai sekelompok kecil elite dan petinggi.

Bagi-bagi 'kursi' adalah hal biasa sebagai bentuk balas budi. Bancakan dana dan proyek negara untuk mengenyangkan perut para perampok berkerah. Pada akhirnya, korupsi akbar tak terhindarkan lagi. Menunjukkan borok sistem yang terlalu rakus dengan jabatan dan mabok kekuasaan.

Begitulah kehidupan politik ala kapitalis-demokrasi. Ambyar dan berceceran. Bukan opini suka-suka. Namun fakta berbicara apa adanya. Politik bisa ambyar bila maknanya dikaburkan. Seakan politik itu licik, kejam, kotor, dan tak berperikemanusiaan.

Padahal, politik yang ada sekarang adalah buah dari sistem yang diterapkan. Kapitalisme membuat negeri ini ambyar tak karuan. Awal tahun baru disambut dengan mega korupsi di lembaga-lembaga berplat merah. BUMN sakit. Defisit tak terkendali.

Sebenarnya politik itu akan bermaslahat kalau dimaknai dengan benar, diterapkan secara proporsional, ditopang sistem yang anti keculasan dan kemunafikan. Politik itu seharusnya mengurusi urusan rakyat dengan benar. Politik itu bukan jalan untuk meraih puncak kekuasaan.

Politik adalah menggunakan kekuasaan untuk melayani kepentingan rakyat secara amanah dan bertanggungjawab. Bukan memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Inilah makna politik dalam pandangan Islam. Tidak haus kekuasaan dan tidak abai dalam mengatur urusan rakyat.

Imam Al Ghazali menuturkan, "Agama dan kekuasaan adalah dua hal saudara kembar. Agama adalah fondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan lenyap”.

Islam tanpa kekuasaan menjadi lemah tak berdaya. Kekuasaan tanpa Islam akan lepas kendali, serakah, dan tanpa rasa. Sebab, pemimpin yang berkuasa tanpa iman dan nurani yang benar hanya akan menyengsarakan rakyat. Jadi, setiap muslim memang seharusnya berpolitik. Karena buta politik sama halnya merelakan diri 'dimakan' politik hari ini.

Sebagaimana nasihat Muhammad Natsir berikut, "Kalau saudara-saudara merasa tidak perlu serta politik, biarlah tidak usah berpolitik. Tetapi saudara-saudara jangan buta politik. Kalau saudara-saudara buta politik, maka saudara-saudara akan dimakan oleh politik". 

Sebaiknya kita juga patut merenungkan perkataan seorang tokoh kenamaan Turki, Necmettin Erbakan, "Muslim yang tidak peduli politik akan dipimpin politisi yang tak peduli pada Islam".

Chusnatul Jannah

Penulis adalah aktivis Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Bripda Nopandri Anggota Polres Katingan Ditemukan Wafat Usai Gerebek Bandar Narkoba

Sabtu, 04 Juli 2026 | 22:06

GreenBus Pertamina, Ajak Generasi Muda Belajar dari Kampung Hijau Cemara

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:46

Aipda Endang Karyana Gugur usai Tertabrak Tugas di Tol Joglo

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:39

Bank Mandiri Taspen Gelar Appreciation Night Bersama Media di Pantai Sanur

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:10

Kapolri Pimpin Sertijab Enam Kapolda dan PJU Mabes

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:34

Ulang Tahun, Dasco Ucapkan Selamat untuk Nadiem Makarim

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:08

Terus Ada, Ada Terus, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial 80 Tahun Pengabdian

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:44

Partai Demokrat Ajak Publik Terlibat Tentukan Logo HUT ke-25

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:52

Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Ini Jadwalnya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:25

KAI Group Angkut 258,99 Juta Penumpang di Semester I 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:57

Selengkapnya