Berita

Agus Edy Santoso/Net

Publika

Gambit Gagal Agus Lenon

SABTU, 11 JANUARI 2020 | 14:45 WIB

KAMI akan bertanding catur, Sabtu pagi ini. Agus Edy Santoso dan saya terdaftar di antara 30-an pecatur amatir yang diundang berlaga untuk memperebutkan "Malari Cup" - tentu saja yang akan membuka adalah lurah Malari yang tak pernah terlihat main catur, Hariman Siregar.

Panitia tiap waktu memperbarui info di seputar pertandingan. Peserta tidak boleh telat. Kaos dan topi sudah disiapkan. Makanan sesuai jumlah peserta pun disiagakan di lokasi, restoran Pempekita milik aktivis lima zaman, Bursah Zarnubi.

"Jika peserta berhalangan, mohon infokan kami," kata salah satu pengumuman panitia. "Siap!" begitu saya selalu menjawab.


Baru saja saya putuskan: seandainya turnamen tetap dilanjutkan, saya mohon maaf: saya mengundurkan diri. Beberapa menit sebelumnya saya mendapat kabar yang memukul keras jantung saya: Agus Lenon harus membatalkan partisipasinya dalam turnamen. Saya pun merasa tidak sanggup bertanding dengan absennya sahabat yang tak cukup sering saya temui tapi selalu hangat dalam situasi apapun.

Kadang kami bermain catur di rumah saya. Pulang lewat tengah malam, Agus bisa menjalankan hobi lamanya: kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki.

Tapi kami lebih sering hanya menjalankan psywar - saling mengejek dan manantang tanding, tanpa kemudian bisa sungguh-sungguh bertemu.

Kadang Agus mengontak saya hanya untuk mengkonformasi suatu berita baik. Kami saling tahu bahwa "ideologi" kami berbeda, tak jarang bertentangan, tapi saya selalu mensyukuri kehangatan pertemanan kami yang berakar nun di Jogja sana.

Seperti perkawanan kaum aktivis mahasiswa umumnya, saya sudah lupa kapan kami berkenalan. Tapi kemudian yang paling menonjol bagi saya: Agus pemasok bahan-bahan bacaan yang tidak mungkin kami dapatkan melalui saluran terang.

Sebagai aktivis Jogja yang pindah ke Jakarta sebelum lulus (dari IAIN Sunan Kalijaga; pindah ke kantor PB HMI di Jalan Diponegoro), Agus dalam waktu singkat masuk dalam jaringan pertemanan aktivis Jakarta yang punya akses kuat pada bacaan-bacaan leftist, dan dengan itu kedatangannya ke Jogja sering kami rindukan.

Kadang ia mampir untuk berbincang sampai subuh di kamar kos saya. Dan dengan badannya yang besar dan kekar, ia tak pernah terlihat kepayahan dengan tas pundak besar yang mudah ditebak sebagian besar isinya: bacaan-bacaan panas tentang politik "alternatif" yang harus dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang menurut dia perlu membacanya.

Perangai sehari-hari Agus Lenon (nama ini terus terpatri bahkan jauh setelah ia tak lagi memakai kacamata bundar ala John Lenon), berlawanan dengan semangat revolusioner dan "perubahan struktural" yang konstan ia nyalakan sejak lama. Agus tak pernah sekali pun terlihat marah. Ia bahkan selalu menyelingi percakapan apapun dengan seringai dan suara kekehnya yang seakan keluar dari hidungnya.

Ia seperti tak sengaja terlempar ke Jakarta karena terpilih menjadi personel pengurus Besar HMI. Di sana ia terlibat dalam pembuatan media internal yang baru saja diterbitkan. Agus dipandang salah satu dari sedikit aktivis yang berbakat menulis. Dinamika aktivisme Jakarta yang jauh lebih hangat dan memompa adrenalis kemudian membuatnya mencari segala cara agar ia tak perlu lagi kembali ke Jogja - apalagi ke kampung halamannya di Situbondo.

Agus memang kemudian cukup menekuni penulisan dan perbukuan. Di luar dugaan banyak sahabatnya, ia juga dokumenter yang baik. Begitulah, ternyata ia menyimpan rapi makalah-makalah Nurcholish Madjid, misalnya, lalu mengeditnya menerbitkan kumpulan tulisan Cak Nur yang mengejutkan dan menjadi buku laris dalam waktu singkat: "Islam: Keindonesiaan dan Kemodernan".

Tapi Agus jelas bukan pembaca buku-buku teori catur. Ia bermain tanpa "metodologi"; ia mungkin hapal beberapa pembukaan standar dan karenanya selalu memulai dengan cepat, terutama jika ia memegang buah putih.

Di permainan tengah, Agus sering harus lama hanya mampu mendengus sambil merapikan letak kacamatanya. Lalu melangkah ragu-ragu, membuat posisi lemahnya semakin berat - dan kalah telak. Lalu dengan cepat ia akan menyusun bidak dan lain-lain untuk babak baru.

Sejak setahun terakhir ia dua-tiga kali masuk rumah sakit untuk problem jantungnya. Belakangan ia menggunduli habis rambutnya, tapi matanya tetap seperti 30-an tahun silam: memancarkan optimisme dan menyiratkan senyum.

Dua pekan lalu ia bertanya melalaui WA: "Mid, apa di foto profilmu itu anakmu?" Ya, ia baru lewat 11 tahun, dan bersekolah di Bali. Ia memuji Alma. Lalu mengirim foto anaknya sendiri - juga perempuan, juga seusia anak saya.

Itu adalah sisi lain Agus yang kurang saya perhatikan tapi tidak mengejutkan bagi saya. Rasa kasih dan cintanya pada anaknya tentulah kelanjutan saja dari kebaikan hatinya pada teman, pada siapa saja, dengan pertimbangan tunggal: bahwa mereka semua adalah manusia.

Malam ini (tadi malam) langkah Agus di permainan akhir terhenti. Ia ragu-ragu. Ia berpikir sekali lagi. Tapi ia tak pernah melanjutkan permainan sampai selesai.

Sorry, Gus, kali ini kau kalah lagi. Tapi itu tidak berarti saya adalah pemenang yang gembira. Saya rasa kekalahanmu juga kekalahan saya.

Saya bahkan tidak mampu melihat papan dengan jelas. Terlalu banyak air yang menghalangi pandangan saya.

Hamid Basyaib

Aktvis, sahabat Agus Lenon.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Bripda Nopandri Anggota Polres Katingan Ditemukan Wafat Usai Gerebek Bandar Narkoba

Sabtu, 04 Juli 2026 | 22:06

GreenBus Pertamina, Ajak Generasi Muda Belajar dari Kampung Hijau Cemara

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:46

Aipda Endang Karyana Gugur usai Tertabrak Tugas di Tol Joglo

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:39

Bank Mandiri Taspen Gelar Appreciation Night Bersama Media di Pantai Sanur

Sabtu, 04 Juli 2026 | 21:10

Kapolri Pimpin Sertijab Enam Kapolda dan PJU Mabes

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:34

Ulang Tahun, Dasco Ucapkan Selamat untuk Nadiem Makarim

Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:08

Terus Ada, Ada Terus, BNI Hadirkan Ragam Promo Spesial 80 Tahun Pengabdian

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:44

Partai Demokrat Ajak Publik Terlibat Tentukan Logo HUT ke-25

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:52

Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Ini Jadwalnya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:25

KAI Group Angkut 258,99 Juta Penumpang di Semester I 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:57

Selengkapnya