Berita

Peneliti ICW Wana Alamsyah/RMOL

Politik

ICW: Penyiram Novel Lebih Tepat Dikenai Pasal Pembunuhan

SENIN, 30 DESEMBER 2019 | 07:35 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai pasal penganiayaan yang diberikan tim penyidik kepada pelaku penyiraman air keras terhadap mantan penyidik KPK Novel Baswedan kurang tepat.

Kedua tersangka yang merupakan polisi aktif berinisial RM dan RB diketahui dijerat pasal pengeroyokan dan penganiayaan sebagaimana termaktub dalam pasal 170 KUHP subsider pasal 351 ayat 2 KUHP.

Peneliti ICW Wana Alamsyah menginginkan agar aparat keamanan melihat gambaran kasus secara komprehensif. Dengan begitu, pasal yang dikenakan akan jauh lebih bijak.


“Bagaimana pun juga informasi yang kita dapatkan adalah informasi yang parsial dari kepolisian semata. Bahwa dua orang pelaku tersebut telah diamankan, tapi kita tidak mengetahui apakah sebenarnya di balik dua pelaku tersebut ada aktor intelektual atau tidak,” kata Wana usai menjadi pembicara di acara diskusi catatan akhir tahun ICW di Jakarta, Minggu (29/12).

Menurutnya, penyidik harus lebih mengakar dalam proses penyidikan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan. Seperti munculnya isu keterlibatan tokoh intelektual dalam kasus tersebut, sehingga tidak hanya menyematkan pasal penganiayaan melainkan sudah masuk upaya rencana pembunuhan.

“Ketika ada aktor intelektual yang muncul, artinya pasal tersebut bisa ditingkatkan lagi bukan hanya penganiayaan seperti itu. Bahkan sudah ada upaya untuk perencanaan pembunuhan,” katanya.

Dengan melihat rekaman CCTV, lanjut Wana, penyidik dapat menyimpulkan apakah Novel benar-benar dikeroyok oleh dua orang tersebut atau tidak.

“Bukan hanya ketika ada orang kemudian bertemu lalu kemudian bertengkar, kemudian terjadi penganiayaan,” tegas Wana.

Dia menilai, karena sudah ada prasyarat terlebih dahulu ketika Novel akan diseran, maka konteks percobaan melakukan pembunuhan ini harus coba didalami oleh kepolisian.

Baginya, problem yang terjadi dalam pengungkapan kasus Novel Baswedan adalah belum tuntasnya penjelasan apakah dua orang tersangka tersebut merupakan aktor intelektual sekaligus eksekutor atau ada orang lain di belakang mereka.

“Kepolisian juga harus tegas dalam konteks penangkapan atau penyerahan diri, sehingga kita bisa melihat dan mengukur kinerja kepolisian dalam mengungkap kasus Novel,” tutupnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya