Berita

Rektor Institute Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria/Net

Politik

Refleksi Akhir Tahun, Rektor IPB Bedah Ketertinggalan Indonesia Di Kawasan

JUMAT, 27 DESEMBER 2019 | 18:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyampaikan sejumlah indikator ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara lain. Dari banyak indikator, Arif, menyebut Indonesia berada di bawah negara-negara Asia Tenggara.

Demikian disampaikan Arif saat menyampaikan pidato refleksi akhir tahun bertajuk "Kebebasan Akademik dan Transformasi Demokrasi" di Kantor DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (27/12).

"Indeks inovasi global Indonesia berada di urutan 85, bandingan dengan Singapura yang berada diurutan 8, Malaysia ke 35, Thailand ke 43, Vietnam ke 42, Filipina ke 54, dan Brunai urutan ke 71," ujar Arif.


Hadir pada kesempatan ini adalah Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, Presiden Asian African Youth Government Benni Pramula, mantan Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat, anggota DPR RI Sri Meliyana dan ratusan aktivis lintas generasi.

Selain menyampaikan ketertinggalan dalam hal inovasi, Arif juga menyebutkan Indonesia mengalami ketertinggalan dalam hal daya saing. Disebutkan, indeks daya saing global Indonesia berada di urutan ke 50 dunia dan urutan ke empat di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Indeks ketahanan pangan global 2019 ini kita nomor 62 dunia dan kelima di Asis Tenggara," papar Arif.

Tidak sampaikan di situ, dalam Food Sustanability Indexs (FSI) 2018, Arif juga mengatakan bahwa Indonesia mendapat skor 59,1, tertinggal dari Ethiopia yang mendapat skor 86,5. Padahal Ethiopia pernah dikenal sebagai negara kelaparan. Namun demikian, lanjut Arif, dalam hal food lose and waste atau FLW kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia tergolong tinggi.

"Menurur FAO, FLW kita sekitar 300 kg/kapita/tahun dan tergolong nomor dua dunia, setelah Arab Saudi. FLW ini menjadi perhatian dunia karena sepertiga produksi pangan dunia hilang dan mengalami pemborosan. Sebenarnya dengan mengatasi FLW ini saja, maka ketersediaan pangan kita akan meningkat," tambah Arif.

Arif juga memaparkan indeks kelaparan globl. Versi IFPRI, Arif menyebut bahwa skor indeks Indonesia sebesar 21 dan skor negara maju kurang dari 5.

"Pada tahun 1992 skore kita 35,8 dan selama 22 tahun hingga 2016 turun 12,9 persen, atau rata-rata turun 0,6 poin pertahun," katanya.

Bila tidak ada usaha khusus yang sistematis dan serius, menurut Arif, dengan penurunan 0,6 poin pertahun itu maka diperlukan 27 tahun untuk menyamakan posisi Indonesia dengan negara maju.

"Tentu kita mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengatasi masalah stunting, karena stunting ini menjadi variabel penting dalam indeks kelaparan global. Bila masalah ini ditangani dengan kerja ekstra keras, maka waktu yang diperlukan untuk setara negara maju maka akan mebih cepat lagi," katanya.

Menurut Arif, harus ada optimisme membangun bangsa karena optimisme akan memberi energi positif dalam berpikir dan bertindak. Dia mengatakan optimisme mulai mengalir dan momentumnya adalah 2045 persis 100 tahun Indonesia merdeka.

"Diperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan PDB 7,3 triliun dalar AS dan pendapatan perkapita 25 ribu dolar AS," demikian Arif. 

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya