Fasilitas nuklir Jepang/Net
Wacana pembuangan air limbah nuklir ke laut kembali disuarakan oleh Kementerian Ekonomi dan Industri Jepang. Kali ini, pembuangan air limbah nuklir yang masih terkandung radioaktif memiliki dua opsi, yakni dibuang ke laut atau diuapkan ke udara.
"Kementerian menyarankan pelepasan air yang terkendali ke Pasifik, memungkinkan air menguap, atau mengkombinasi dua metode," tulis kementerian dalam proposal pada Senin (23/12) seperti yang dimuat AP.
Lebih lanjut, Kementerian mengatakan, pelepasan air limbah ke laut secara terkontrol adalah pilihan terbaik dan dapat dipantau dengan baik pula. Pelepasan pun diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk menjaga tingkat radiasi di bawah batas hukum.
Setelah pabrik nuklir Fukushima hancur akibat tsunami pada 2011 lalu, pemerintah Jepang kewalahan mencari cara untuk membuang limbah radioaktif yang sampai saat ini disimpan di dalam tangki yang sudah kehabisan kuota.
Namun, opsi untuk membuang limbah ke laut ditentang keras oleh nelayan dan penduduk. Mereka khawatir akan merusak biota laut dan dampak kesehatan di kawasan tersebut. Penolakan tersebut juga disuarakan oleh nelayan dalam Asosiasi Koperasi Federasi Perikanan Nasional.
Kendati demikian, menurut Tokyo Electric Power Co. (TEPCO), air limbah nuklir telah diolah dan 62 unsur radioaktif yang terkandung di dalamnya dapat dihilangkan menjadi ke tingkat tidak berbahaya bagi manusia, kecuali satu unsur, yaitu tritium.
Para ilmuwan mengatakan tidak ada metode yang dapat memisahkan tritium dengan air. Namun tritium tidak berbahaya jika hanya dalam jumlah kecil dan tidak bisa menembus kulit manusia. Tetapi menghirup atau menelan tritium bisa meracuni tubuh cukup parah.
Menurut kementerian, pembangkit nuklir di seluruh dunia, secara rutin telah melepaskan limbah nuklir terkontaminasi tritium dengan cara penguapan.
Contohnya, seperti pembangkit nuklir Three Mile Island, Amerika Serikat yang bisa menguapkan 8.700 ton air yang terkontaminasi tritium.
Selain dibuang ke laut dan diuapkan ke udara, pemerintah juga telah mencari beberapa opsi lain seperti mengubur di dalam tanah hingga menginjeksikan ke lapisan geologi paling dalam.