Berita

Donald Trump/Net

Muhammad Najib

Donald Trump Akhirnya Terjungkal

KAMIS, 19 DESEMBER 2019 | 20:44 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SETELAH menduduki Gedung Putih, Donald Trump sebagai nakhoda kapal besar bernama Amerika Serikat, mengemudikannya seperti sopir bajaj tanpa leting dan tanpa spion. Belok kiri dan kanan seenaknya bahkan layak disebut ugal-ugalan. Saat menyerempet atau menyodok mobil lain, maka ia yang marah terlebih dahulu, sambil nantang dan petantang-petenteng.

Trump baru saja tersungkur di Parlemen Amerika (House of Representatives) akibat kalah voting dalam sebuah proses pemakzulan yang telah berlangsung sekitar dua bulan, diinisiasi oleh Ketua Parlemen Nancy Pelosi dan didukung oleh Partai Demokrat.

Sang Presiden dipersalahkan karena melanggar dua hal: Pertama, telah menyalahguna kekuasaan (abuse of power) terhadap kandidat Presiden dari Partai Demokrat, dengan cara menekan Presiden Ukrania untuk melakukan investigasi terhadap putra Joe Biden yang memiliki bisnis di sana.


Joe Biden merupakan mantan Wakil Presiden yang kini menjadi kandidat Partai Demokrat yang akan menantang Trump pada pemilu tahun depan.

Kedua, Trump telah dianggap menghalang-halangi proses penyelidikan yang dilakukan Parlemen terkait kasus di atas, karena sikapnya yang tidak kooperatif dan terus menantang dan mengumbar ancaman lewat berbagai media, khususnya media sosial.

Sebelum dimakzulkan, Trump selalu menimbulkan berbagai kontroversi, mulai kemenangannya dalam pemilu yang pekat dengan aroma tidak fair, sehingga memaksa otoritas Amerika melakukan penyelidikan yang sampai sekarang masih terus berlangsung.

Trump juga sangat mudah memecat para pejabat teras, kemudian menggantikannya dengan cara mengangkat teman-teman dekatnya walau mungkin tidak kompeten menurut penilaian publik. Karena itu, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat nepotis. Hal ini diperkuat dengan cara melibatkan anak dan menantunya yang masih hijau ke dalam urusan negara yang sangat penting dan strategis.

Terhadap negara lain, ia cendrung menggunakan prinsip unilateralisme dibanding multilateralisme sebagaimana lazimnya dalam pergaulan internasional. Ia hanya berfikir kepentingan nasionalnya, bahkan bukan mustahil kepentingan pribadinya, dan pada saat bersamaan mengabaikan kepentingan nasional negara lain.

Lebih dari itu, ia juga sering melanggar ketentuan atau kesepakatan internasional, termasuk yang dibuat oleh negaranya sendiri. Lebih jauh lagi, ia begitu mudah mengumbar sangsi terhadap negara lain.

Apa yang dilakukan Parlemen Amerika menunjukkan bahwa demokrasi masih berjalan di sana, mayoritas wakil rakyat Amerika masih sehat, sehingga mampu melakukan koreksi saat keliru memilih seorang pemimpin.

Akan tetapi, keputusan Parlemen tidak serta-merta membuat Trump dan keluarganya harus meninggalkan Gedung Putih. Keputusan Parlemen sesuai dengan undang-undang yang berlaku dimana Kongres menganut sistem dua kamar, sehingga masih memerlukan persetujuan Senat yang didominasi oleh Partai Republik.

Apalagi persetujuan Kongres memerlukan dukungan 2/3 senator, sehingga tampak akan sulit melaluinya.

Karena itu, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi. Pertama, Kongres menolak keputusan Parlemen yang didominasi Partai Demokrat. Bila hal ini terjadi, maka Trump akan bertahan sebagai Presiden.

Selanjutnya ia akan menjadi kandidat Presiden dari Partai Republik untuk kedua kalinya. Dalam kondisi babak-belur seperti saat ini, tentu peluangnya untuk memenangkan pemilu yang akan diselenggarakan tahun depan akan kecil sekali.

Kedua, ia dipaksa oleh publik Amerika untuk turun. Bila hal ini terjadi, maka Partai Republik tidak akan berani membelanya, bahkan bisa berbalik memaksanya untuk mengundurkan demi menyelamatkan partai.

Apapun yang terjadi, kredibilitas Trump baik di dalam maupun di luar negri telah jatuh. Karenanya, baik kawan maupun lawan politiknya akan segera melakukan reposisi demi menyelamatkan kepentingan masing-masing.

Sebagai contoh, Benyamin Netanyahu yang selama ini mendapatkan dukungan penuh Trump dalam melakukan tindakan agresif terhadap lawan-lawan politiknya, tentu akan mengendurkan langkahnya jika tidak ingin ikut terjungkal.

Begitu juga Saudi Arabia yang de facto dikendalikan oleh Putra Makota Muhammad bin Salman (MBS) yang membangun hubungan mesra dengan Jared Kushner sang menantu Trump, harus segera mengubah haluan jika tidak ingin ikut terkapar.

Begitu juga negara-negara lain seperti Palestina, Turki, Qatar, China, Rusia, serta negara-negara Eropa yang secara tradisional menjadi sekutu Amerika yang selama ini dibingungkan dan dibebani oleh manuver-manuver Donald Trump yang tidak lazim dan sulit diprediksi, akan melakukan kalkulasi dan strategi ulang dalam percaturan politik global yang melibatkan kekuatan ekonomi dan militer secara bersamaan.

Kita tentu berharap konstalasi politik, ekonomi, dan militer kembali normal, sehingga dunia kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh penghuninya.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya