Berita

Etnis Uighur/Net

Dunia

Sembilan Catatan Kekerasan Yang Dialami Muslim Uighur

RABU, 18 DESEMBER 2019 | 15:01 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Isu kekerasan dan ketidakadilan yang dialami Muslim Uighur oleh pemerintah China kembali mencuat di tanah air lantaran dipicu dengan sebuah artikel dari The Wall Street Journal dengan judul â€œHow China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps”.

Dalam artikel yang ditulis oleh koresponden WSJ yang berbasis di Hong Kong, Jon Emont yang dirilis pada Rabu (11/12) tersebut dijelaskan pemerintah China berusaha untuk membungkam ormas-ormas Islam di Indonesia dengan cara memberikan bantuan dan donasi.

Menanggapi hal ini, NU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas Islam terbesar di Indonesia menyanggah dengan keras tudingan tersebut.


Namun, sebelum artikel tersebut muncul, sebenarnya dunia telah kembali dihebohkan oleh kasus muslim Uighur dengan disahkannya UU Uighur oleh parlemen Amerika Serikat.

Dalam UU yang telah disetujui parlemen AS pada awal Desember tersebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan mendeklarasikan kecamannya terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah China terhadap etnis Uighur. Lebih lanjut, AS juga akan memberikan sanksi kepada para pejabat yang terlibat dalam pelanggaran HAM tersebut.

Etnis Uighur sendiri adalah etnis minoritas yang tinggal di Xinjiang, China. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 10 juta jiwa dengan mayoritas beragama Islam Sunni. Isu pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur muncul sekitar tahun 2017.

Pada saat itu, isu yang mencengangkan adalah satu hingga dua juta muslim Uighur ditempatkan di kamp-kamp untuk dicuci otak dan menerima tindakan kekerasan. Selain itu, muncul juga berbagai isu mengenai kekerasan yang dialami oleh muslim Uighur, di antaranya seperti:

1. Melarang pemberian nama yang berkaitan dengan Islam untuk bayi muslim Uighur

"Muhammad", "Arafat", "Jihad", "Medina", dan nama-nama yang berkaitan dengan Islam lainnya dilarang untuk diberikan kepada bayi muslim Uighur yang baru lahir. Nama-nama itu sendiri masuk ke dalam “List of Banned Ethnic Minority Names” yang ditulis oleh aktivis Uihur di The New York Times pada 2017 lalu.

2. Menyita Al-Quran dan Sajadah

Isu lain yang muncul adalah pemerintah China menyita Al Quran, sajadah, dan simbol keagamaan lainnya milik minoritas Muslim Uighur. Dimuat Radio Free Asia pada 27 September 2017, dijelaskan apabila suatu saat barang-barang tersebut ditemukan, mereka akan mendapatkan hukuman kekerasan.

3. Melarang belajar agama dan Al-Quran

Dilansir dari laporan Al Jazeera, yang dirilis pada 17 Januari 2018, pemerintah China melarang anak-anak muslim Uighur untuk mendatangi masjid atau menghadiri kegiatan keagamaan selama musim dingin, termasuk melarang mereka membaca Al-Quran.

4. Melarang puasa dan membuat masjid menjadi tempat propaganda


Kembali dimuat Radio Free Asia pada 3 Agustus 2017, dalam kunjungan Ketua Partai Komunis Xinjiang Chen Quangquo pada Agustus 2016 ke Xinjiang, ia melarang Muslim Uighur untuk berpuasa Ramadhan untuk tahun 2017.

5. Mengganti tulisan syahadat dengan slogan Partai Komunis

Dalam kunjungan itu pula, Chen memerintahkan untuk mengganti tulisan di Masjid Jama yang terletak di Kashgar, Kargilik dari "Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah" menjadi "Cintai Partai Komunis, Cintai Negara".

6. Memasang kamera pendeteksi wajah di Xinjiang

Ketakutan China akan terorisme dan mengaitkannya dengan Islam membuat pemerintah China, seperti yang dimuat The Guardian pada 18 Januari 2018 memasang sejumlah kamera pengawas pendeteksi wajah di Xinjiang. Kamera tersebut digunakan pemerintah untuk mengawasi dan mengontrol Muslim Uighur.

7. Dipaksa menerima anggota Partai Komunis untuk tinggal bersama

Seperti yang dilansir dari CNN pada 14 Mei 2018, keluarga Muslim Uighur di Xinjiang selatan diharuskan untuk menerima tamu dari Partai Komunis China yang akan tinggal selama sepekan. Tujuannya adalah untuk "mengedukasi politik" yang dianggap sebagian pihak adalah cuci otak.

8. Pernikahan beda ras

Pemerintah China dalam South China Morning Post yang dirilis pada 28 Mei 2015 juga mendorong Muslim Uighur untuk menikah dengan etnis lain dengan alasan untuk melawan intoleransi dan persatuan etnis. Namun, beberapa pihak mengartikan ini sebagai usaha China untuk mendorong kepunahan Muslim Uighur.

9. Kamp-kamp "vokasi"


Sekitar satu hingga dua juta orang Muslim Uighur dinyatakan berada dalam sebuah kamp yang dinamakan kamp vokasi. Pemerintah China mengatakan kamp tersebut bertujuan untuk mengedukasi dan meningkatkan skill mereka, namun dari beberapa laporan media menyatakan kamp-kamp tersebut digunakan untuk mengkurasi pengetahuan agama Muslim Uighur dan menggantinya dengan pengetahuan komunisme. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya