Berita

Bukit Peramun/Net

Jaya Suprana

Pembangunan Berkelanjutan Bukit Peramun

KAMIS, 12 DESEMBER 2019 | 07:21 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEMENTARA Bukit Duri digusur atas nama pembangunan dengan mengorbankan rakyat, maka Bukit Peramun dibina atas nama pembangunan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan rakyat.

Ista

Terberitakan oleh laman resmi Kementerian Pariwisata bahwa desa Bukit Peramun di pulau Belitung sebagai desa binaan Bakti BCA menerima anugrah penghargaan dalam ajang ISTA (Indonesian Sustainable Tourism Awards) pada Kamis (26/9/2019) di Jakarta.


Desa Bukit Peramun berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang Green Gold kategori Pelestarian Lingkungan dari ajang Indonesia Sustainable Tourism Award.

Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa ISTA dilaksanakan bukan sebagai kompetisi untuk membandingkan antar destinasi/daya tarik wisatawan/bisnis pariwisata, akan tetapi untuk memotivasi destinasi lainnya agar dapat meningkatkan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Selain itu, ISTA membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat serta para pelaku pariwisata mengenai  Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan serta memberikan apresiasi kepada destinasi-destinasi yang telah menerapkan prinsip Pariwisata berkelanjutan.

Pariwisata


Executive Vice President CSR BCA, Inge Setiawati  menyatakan, pihaknya mengapresiasi perihal desa binaannya yang berhasil menjadi pemenang dalam ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bersama bagi segenap warga desa Bukit Peramun . Bukit Peramun memiliki puncak tertinggi berupa singkapan boulder granite pada ketinggian + 129 mdpl. Pada bagian puncak bukit ini banyak dipenuhi dengan singkapan boulder granite yang menawan dan mengagumkan dengan berbagai bentuk dan ukuran (batu kembar, batu dinosaurus,dll) yang sangat besar.

Untuk membuat tempat ini menjadi lebih menarik namun tetap menjaga kelestarian lingkungan yang ada, diawali dengan melakukan identifikasi secara swadaya tercatat ada 147 jenis flora dan 73 jenis fauna, dan 80% dari flora atau tanaman berkhasiat sebagai obat.

Penamaan “Peramun” itu sendiri berasal dari kata peramu atau ramu atau peramuan, yang muncul karena tradisi masyarakat zaman dulu secara turun temurun menjadikan Bukit Peramun sebagai tempat tumbuhnya beraneka ragam tumbuhan lokal yang bermanfaat sebagai jamu, sehingga Bukit Peramun sering dijadikan tempat meramu jamu yang dilindungi secara adat oleh masyarakat setempat.

Tarsius dan Digital


Beberapa daya tarik priwisata Bukit Peramun adalah Rumah Hobbit, Jembatan Merah, Batu Kembar, Mobil Terbang, Panggung Bulin, Rumah Pohon, Puncak bukit, dan wisata malam Tarsius. Tarsius atau  Pelilian, merupakan fauna langka yang mendiami Bukit Peramun.

Kegiatan konservasi tarsius dialam bebas sudah dilakukan + 2 tahun terakhir, kegiatan inventarisir jumlah tarsius dan pemetaan habitat dilakukan secara swadaya. Bagi peminat wisata malam untuk melakukan pengamatan tarsius langsung di alam bebas dapat dilakukan pada beberapa lokasi, dan akan dipandu oleh guide yang professional dalam mencari tarsius di alam bebas.

Desa Belitung juga dikenal sebagai desa berbasis digital, karena keberhasilan pengurus desa dalam mengaplikasikan sistem QR Code untuk memperkenalkan jenis dan manfaat tanaman dengan panduan virtual dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).

Desa Peramun dikembangkan oleh BCA melalui serangkaian kegiatan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat yang berorientasikan kualitas pelayanan unggul kepada wisatawan selaras agenda Pembangunan Berkelanjutan.

Pembangunan Berkelanjutan

Keberhasilan BCA membina desa Bukit Perambun merupakan bukti tak terbantahkan bahwa Pembangunan Berkelanjutan dapat diwujudkan tanpa mengorbankan rakyat dan alam.

Masyarakat desa atau kampung sama sekali tidak layak dicemooh sebagai terbelakang sebab apabila diberi kesempatan apalagi dukungan maka masyarakat rural mampu mempersembahkan karsa dan karya tidak kalah unggul ketimbang masyarakat urban.

Pembangunan justru sebaiknya diawali di desa atau kampung sebagai landasan peradaban bangsa.

Ibarat pembangunan rumah memang tidak dimulai dari atap sebagai bagian atas rumah namun dimulai dari tanah  sebagai landasan di mana bangunan rumah berdiri.

Penulis adalah pembelajar agenda pembangunan berkelanjutan

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya