Berita

Pakar ekonomi senior Ichsanuddin Noorsy/Net

Politik

Ichsanuddin Noorsy: Sri Mulyani Sedang Ajak Rakyat Menikmati Ketersesatan

KAMIS, 05 DESEMBER 2019 | 17:34 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Menteri Keuangan Sri Mulyani merupakan penganut globalisasi dalam ekonomi atau economic internasionalism. Hal itu juga yang menerangkan mengapa menteri berpredikat terbaik dunia tersebut selalu bergantung ekonomi global.

Begitu terang pakar ekonomi senior Ichsanuddin Noorsy menanggapi Sri Mulyani yang seolah menggantungkan nasib ekonomi bangsa pada ekonomi global.

Sri Mulyani beberapa waktu lalu kembali mendapat penghargaan menteri terbaik dari salah satu media online. Dalam sambutannya, Sri Mulyani mengurai mengenai ketidakpastian global.


Dia juga menyinggung mengenai harapannya pada kesepakatan mengakhiri perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, yang akhirnya gagal karena ada ketegangan di Hong Kong.

“Mereka penganut globalisasi ekonomi, memang bergantung pada situasi penentu ekonomi dunia, China dan AS,” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (5/12).

Noorsy mengingatkan bahwa negara-negara dunia juga marah pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping atas gejolak ekonomi global yang ditimbulkan. Namun mereka tidak sebatas menghujat, melainkan turut mempersiapkan diri melalui penguatan domestik.

“Orientasinya tidak out world, tapi in world (kepentingan domestik),” tegasnya.   

Bahkan, sambung Ichsanuddin, China dan AS juga mengutamakan kepentingan domestik masing-masing. Contohnya, saat Trump mendukung UU HAM dan Demokrasi Hong Kong, China langsung merespon dengan melipatgandakan perlindungan domestik.

Untuk itu, dia mengingatkan Jokowi dan tim ekonomi, khususnya Sri Mulyani, untuk tidak lagi bergantung pada ekonomi global.

“Kalau bergantung luar, kita sama saja sedang menikmati ketersesatan, kejatuhan,” tegas Ichsanuddin dengan nada meninggi.

Sri Mulyani, sambungnya, harus punya model baku mengenai model analisa VUCA (Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous). Tanpa model baku tersebut Indonesia akan terus menikmati ketersesatan.

“Omongan pemerintah pasti selalu bertentangan antara diucap dan fakta di lapangan. Ujungnya, ya menikmati ketersesatan,” tutupnya.  

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya