Berita

Juliari P. Batubara/Net

Nusantara

Menteri Sosial: Kearifan Lokal Tidak Sekadar Diucapkan, Tapi Harus Diamalkan

KAMIS, 05 DESEMBER 2019 | 12:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Menteri Sosial Juliari P. Batubara menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal adalah budaya yang harus dijaga, dihormati dan dihargai.

Hal itu disampaikan saat membuka Sarasehan Nasional Kearifan Lokal Tahun 2019 dan Rekonsiliasi Nasional Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai Program Keluarga Harapan (PKH), di Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (4/12).

Kearifan Lokal (Riflok) sebagai bagian dari adat istiadat lokal yang berasal dari beragam suku bangsa mencerminkan Indonesia adalah negara yang multi etnis, agama, ras dan golongan. Kebhinekaan merupakan realitas bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya.


Menurut Mensos yang akrab dipanggil Ari, nilai-nilai kearifan lokal tidak hanya sekadar diucapkan dari mulut tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Contoh dalam diri saya ada keturunan Batak dan Jawa, sejak lahir saya sudah disebut 'pejabat' peranakan Jawa Batak dan saya menikah dengan wanita keturunan dari suku lain," ujar Ari.

Aktualisasi dan implementasi nilai-nilai riflok secara nyata di tengah-tengah kehidupan masyarakat menjadi sangat penting mengingat riflok mampu menyatukan keanekaragaman budaya, tradisi, dan adat-istiadat dalam ikatan kebersamaan yang saling menghormati dan menghargai.

Aktualisasi riflok dalam kehidupan sehari-hari merupakan cermin Ideologi Pancasila. Pancasila merupakan cara terbaik untuk kembali menguatkan jati diri bangsa dari gangguan dan ancaman ideologi asing. Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden Jokowi Widodo.

"Presiden selalu mengingatkan ideologi kita pegang teguh dalam setiap kebijakan dan perilaku kita. Ideologi adalah perekat bangsa ini, supaya bangsa ini tidak menjadi pecundang," tegas Mensos.

Pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang menjunjung tinggi keberagaman dan terus mendorong agar nilai-nilai riflok tetap lestari dan diwariskan ke anak cucu. Upaya ini dilakukan untuk mencetak anak-anak kita menjadi generasi yang unggul.

Pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan masyarakat. Oleh karena itu dalam arahannya, Mensos mengajak para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan agar memperkuat persatuan dan kesatuan di daerahnya masing-masing.

"Kalau ada yang mencurigakan segera cari sumbernya, ada gerakan-gerakan yang tidak lazim segera didiskusikan ada apa ini sehingga daerah yang berpotensi konflik dapat dicegah," ujar Ari.

Di tempat yang sama, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat mengatakan bahwa selain menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, peran media juga harus dimanfaatkan karena pengaruh media sosial saat ini sangat besar dalam kehidupan masyarakat khususnya pada generasi muda.

Seiring dengan pergeseran budaya menuju arah modernisasi, semakin banyak tantangan perbedaan kemajemukan yang dihadapi bangsa ini khususnya generasi muda.

"Generasi muda kita yang jumlahnya 129 juta jiwa yang kita harus wariskan negara ini kepada mereka sekarang mengalami sedikit degradasi," ujar Harry Hikmat.

Pengaruh teknologi dan informasi saat ini masif sekali. Media sosial dan aplikasi-aplikasi message dengan bebasnya masuk dan mempengaruhi generasi muda kita. Harry Hikmat mengatakan jika saat ini orang sangat mudah terpengaruh oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Kita memasuki Post-Truth era.

Post-Truth adalah gejala yang hadir bersama hoax, dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif. Opini publik dapat dibentuk via hoax sehingga anak-anak muda sekarang mudah sekali terpengaruh oleh informasi-informasi di media sosial yang kelihatannya benar, padahal tidak. Oleh karena itu kita harus berhati-hati terhadap perkembangan generasi muda sekarang dan mulai dari diri sendiri.

Kegiatan sarasehan riflok yang saat ini masih berlangsung sangat penting di tengah kehidupan bernegara yang terus mendapat tantangan. Di beberapa daerah akhir-akhir ini banyak terjadi konflik sosial yang sebenarnya bisa kita hindari apabila kita menghargai dan menerima perbedaan yang ada.

Ribuan tahun yang lalu bahkan sampai dengan hari ini, bangsa Indonesia telah hidup bersama bergandengan tangan, para pejuang nenek moyang kita telah berjuang membela negara ini. Oleh karena itu tidak ada kata lain selain kita menjaga perdamaian, persatuan dan kesatuan NKRI melalui aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai cermin ideologi Pancasila.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya