Berita

Surya Paloh dan Sohibul Iman/Net

Publika

Drama Politik Rangkul-Tampar

RABU, 04 DESEMBER 2019 | 05:58 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

DRAMATURGI panggung politik terus terjadi. Ada bara dalam sekam. Apa yang tampil di depan panggung bisa berbeda dari yang terjadi di panggung belakang.

Setelah diksi berangkulan. Politik kita secara harfiah makna ruang spasial yang intim, tidak hanya berjabat tangan sebagai kesepakatan, tetapi dengan berangkulan secara erat.

Lawan jadi kawan, tapi secara bersamaan ada kawan yang berpotensi menjadi lawan. Harmoni dalam koalisi sulit untuk terus dijaga, terlebih soal kepentingan yang berbeda.


Konsep dramatisme dan dramaturgi, diperkenalkan dalam ilmu komunikasi, dengan pengandaian bahwa interaksi manusia dapat dipahami sebagai drama. Latar panggung pentas teater adalah laku kehidupan.

Para aktor memainkan peran, di depan panggung tentu berbeda dengan apa yang terjadi di belakang panggung sebelum pementasan. Semua tindakan memiliki tujuan rasional, sesuai kepentingan.

Jadi, berangkulan dan berpelukan saja tidak menyiratkan makna yang lugas. Karena peluk dan rangkul hanya menjadi penghias tampilan panggung, untuk puja-puji serta sorak sorai para pendukung.

Jarak Intim Politik

Dalam ilmu komunikasi, terdapat pula teori ruang spasial, jarak interpersonal disebut proxemics. Pada konsep tersebut, ada jarak personal, yang diasumsikan sebagai penerimaan dan pengakuan.

Pendek kata semakin dekat jarak antara dua pribadi, ruang kedekatan personal, semakin bersifat intim dalam keakraban.

Jadi berpelukan dan saling merangkul antar tokoh politik, dapat dimaknai sebagai upaya untuk mendekatkan jarak antar kepentingan. Tetapi tidak semudah itu tafsirnya, ada soal densitas dan teritori. Densitas diartikan sebagai ruang sesak, dan teritori adalah batas wilayah.

Apa maknanya? Pada suatu daerah dengan kepadatan yang tinggi, maka tingkat kesesakan semakin menjadi, batas antar teritorial kepentingan beririsan, maka definisi ruang jarak yang dekat bermakna sebagai bentuk keintiman justru tertolak.

Refleksinya, koalisi politik yang semakin gemuk, membuat kawan koalisi semakin sesak, sulit bergerak, berangkulan dan berpelukan bukan pilihan dan pertanda persetujuan, bisa jadi isyarat berbeda manakala ruang kekuasaan tidak terbagi merata.

Mungkin masih mengingat soal keringat kampanye yang belum lagi kering. Tapi itulah politik praktis kita hari-hari ini, dinamikanya sangat cair dan bergerak berdasarkan intuisi mengejar kekuasaan.

Tamparan Wajah Politik


Dramaturgi dan ruang intim itu berhadapan dengan upaya negosiasi wajah. Maka ketika aktor politik tengah berbicara soal mencari muka atau sekaligus menampar wajah. Sebagai akibat usulan politik untuk pengajuan tambahan bagi waktu kekuasaan, maka tafsirnya menjadi berbeda.

Format face negotiation theory adalah satu bagian dari ilmu komunikasi yang dapat menjelaskan dan telah dikembangkan, dengan menempatkan muka atau wajah sebagai identitas kultural, baik menjadi simbol individu ataupun identitas kelompok.

Maka diksi dari kalimat menyelamatkan wajah, ataupun mencari muka, adalah bagian dari bentuk episode konflik. Pun hal ini terjadi di ranah politik. Mudah dipahami, bila periode kampanye adalah masa etalase dengan tampilan wajah ramah senyum.

Dengan begitu, bagi aktor politik, kompromi dalam wajah yang tersenyum secara simbolik, adalah sebuah hal yang temporal, sifatnya jangka pendek.

Titik persambungan dari beberapa teori tersebut seolah saling terkait, para aktor memainkan peran, membangun ruang jarak yang hangat dan ideal, dengan menggunakan selubung peran, yang ditampilkan dengan menggunakan topeng-topeng wajah.

Politik rangkul tampar adalah gambaran pragmatisme dalam upaya menuju kekuasaan. Permainan peran, di panggung politik dimainkan seolah mengabaikan kemampuan dan kecerdasan publik dalam membaca gerak laku sandiwara. Tentu membosankan.

Wajah asli para aktor politik akan terkuak, seiring dengan keberadaan kekuasan. Sebagaimana, Abraham Lincoln sampaikan, "Jika Anda Ingin Menguji Karakter Seseorang, Maka Berilah Dia Kekuasaan".

Penulis tengah menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid  


Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya