Berita

Politisi PDIP, I Nyoman Dhamantra saat jadi saksi/RMOL

Hukum

Putra Megawati Soekarnoputri Disebut Jaksa Saat Sidang Kasus Suap Kuota Impor Bawang Putih

JUMAT, 29 NOVEMBER 2019 | 02:22 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Putra sulung Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri disebut Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam persidangan perkara suap pengurusan impor bawang putih di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat pada Kamis (28/11).

Dalam persidangan tersebut, mantan anggota Komisi VI DPR I Nyoman Dhamantra dihadirkan Jaksa KPK menjadi saksi untuk terdakwa Direktur PT Cahaya Sakti Agro (CSA) Chandry Suanda alias Afung, Direktur PT Sampico Adhi Abattoir Doddy Wahyudi dan dari unsur Wiraswasta, Zulfikar.

Dalam persidangan tersebut, Jaksa KPK menanyakan terkait komunikasi antara Nyoman dengan pihak lain terkait dengan kuota impor bawang putih.


Selain itu, Jaksa KPK sempat menanyakan kepada Nyoman dan menyebutkan nama seseorang yakni Tatam yang merupakan panggilan akrab Mohammad Rizki Pratama.

"Tambahan sedikit majelis, baik saksi, saksi kenal dengan yang namanya Pak Tatam?," tanya Jaksa KPK kepada Nyoman.

"Kenal pak," jawab Nyoman.

Jaksa KPK pun kembali menegaskan siapa sosok Tatam yang dikenal oleh Nyoman.

"Oke kenal, beliau siapa seingatnya saksi?," tanya Jaksa KPK.

"Putra, putranya Bu Mega," Jawab Nyoman.

"Oke baik. Izin Majelis ini di BAP saksi 34 sama dengan yang saksi jelaskan itu," lanjut Jaksa dan dilanjutkan pertanyaan lainnya.

Namun, Jaksa tak melanjutkan keterkaitan apa hingga menyinggung nama Tatam di persidangan tersebut. Diketahui, Mohammad Rizki Pratama yang akrab disapa Tatam merupakan Putra Sulung Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, Jaksa KPK kembali menayangkan hal lain dan menyinggung soal kedekatan Nyoman dengan seorang pengusaha yang bergerak di bidang Informasi Teknologi (IT) bernama Elvianto.

"Kemudian saksi, apakah saksi pernah meminta bantuan kepada Elvianto untuk menyelesaikan suatu kasus gugatan di BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia)?," tanya Jaksa.

"Enggak pernah saya," kata Nyoman.

Jaksa pun kembali menegaskan keterkaitan penyampaian meminta bantuan kepada Elvianto. "Pernah menyampaikan kepada Elvianto?," kata Jaksa dan dijawab oleh Nyoman "Gak pernah saya," singkat Nyoman.

Tak puas dengan pengakuan itu, Jaksa kemudian membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Nyoman terkait kasus wanprestasi atau cidera janji. Nyoman pun membenarkan pernyataannya dalam BAP tersebut.

"Izin Majelis membantu mengingatkan saksi di BAP saksi 35 disini saya jelaskan bahwa saya tidak pernah memerintahkan Elvianto alias Yanto selaku kakak kandung Mirawati untuk mengurus permasalahan perusahaan yang digugat terkait wan prestasi namun dapat saya sampaikan bahwa memang saya pernah menyampaikan permintaan saya kepada Elvianto jika nanti ada teman saya yang akan meminta tolong di pengadilan BANI maka saya berharap Elvianto bersedia untuk membantu mengurusnya, betul demikian?," jelas Jaksa.

"Iya," singkat Nyoman.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan lima tersangka lainnya yakni asisten Nyoman, Mirawati Basri dan unsur swasta Elviyanto yang diduga penerima suap. Sedangkan pemberi suap ialah Chandry Suanda, Doddy Wahyudi dan Zulfikar dari unsur swasta.

Penyidik KPK menduga Chandry meminjam uang kepada Zulfikar sebesar Rp 2,1 miliar untuk melunasi kesepakatan pembayaran fee senilai Rp 3,6 miliar untuk Nyoman Dhamantra karena telah menuliskan pembuatan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Uang fee tersebut diketahui berasal setelah adanya kesepakatan saat pertemuan di antara para tersangka. Dimana, Nyoman akan mendapat commitment fee sebesar Rp 1.700 hingga Rp 1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang impor.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya