Berita

Presiden PKS M.Sohibul Iman bersama Pimpinan MPR RI/Ist

Politik

PKS: Amandemen UUD Tidak Boleh Untuk Kepentingan Elite Tertentu

RABU, 27 NOVEMBER 2019 | 00:39 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menegaskan, partainya perlu dan wajib mendengarkan aspirasi dan kehendak rakyat untuk menolak atau menerima wacana amandemen UUD 1945 Negara Republik Indonesia.

Demikian disampaikan Sohibul Iman saat menerima jajaran Pimpinan MPR yang dipimpin Ketua MPR RI Bambang Soesatyo di kantor DPP PKS, Selasa (26/11).

Pria yang akrab disapa Kang Iman ini menegaskan, wacana amandemen UUD Negara Republik Indonesia 1945 tidak boleh didasarkan pada kepentingan elite dan kelompok tertentu saja.


Kata Kang Iman, amandemen UUD Negara Republik Indonesia 1945, harus lahir dari kehendak rakyat seperti semangat dalam reformasi.

"Wacana amandemen UUD NRI 1945 harus didasarkan kepada aspirasi dan kehendak rakyat Indonesia. amandemen 45 bukan didasarkan oleh kepentingan elite tertentu saja, tetapi harus melibatkan ahli-ahli di bidangnya dan sebagaimana pernah bangsa Indonesia lakukan pada Amandemen UUD NRI 1945 I,II,III dan IV pada periode 1999-2002 pasca Reformasi 1998," ujar Sohibul Iman.

Bambang Soesatyo mengakui jika saat ini ada enam kelompok yang memiliki pandangan terkait perlu atau tidaknya amandemen UUD NRI 1945. Salah satu wacana yang berkembang soal amandemen adalah perpanjangan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.

Sohibul Iman dengan tegas menolak amandemen UUD NRI 1945 jika bertujuan memperpanjang masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden menjadi tiga periode. Termasuk menolak wacana Presiden dan Wakil Presiden kembali dipilih oleh MPR RI.

"PKS berkomitmen untuk menjaga semangat reformasi dan demokrasi dengan membatasi kekuasaan bukan memperbesar kekuasaan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan," tegas dia.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya