Berita

Kapal perang Angkatan Laut AS/Net

Dunia

Berdalih Supremasi Hukum, Kapal Perang AS Berlayar Di Dekat Pulau Yang Diklaim China

JUMAT, 22 NOVEMBER 2019 | 11:40 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dalam beberapa hari terakhir, kapal perang Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) dua kali terlihat eksis berlayar di dekat pulau-pulau yang diklaim China di Laut China Selatan.

Demikian laporan yang dimuat oleh Reuters pada Jumat (22/11), setelah melakukan wawancara dengan militer AS satu hari sebelumnya.

Menurut keterangan yang dihimpun oleh Reuters, Jurubicara Armada Ketujuh AL AS, Komandan Reann Mommsen mengungkapkan kapal tempur litoral Gabrielle Giffords melakukan perjalanan sejauh 12 mil laut dari Mischied Reef yang terletak di sebelah timur Kepulauan Spratly, wilayah yang diperebutkan China dan Filipina pada Rabu (20/11).


Keesokannya, dikatakan Mommsen, kapal perusak Wayne E. Meyer masuk ke Kepulauan Paracel yang menjadi klaim China dan Vietnam.

"Misi-misi ini didasarkan pada supremasi hukum dan menunjukkan komitmen kami untuk menegakkan hak, kebebasan, dan pengunaan laut serta wilayah udara yang dijamin secara hukum untuk semua negara," lanjut Mommsen.

Operasi kebebasan navigasi untuk menjamin akses perairan internasional memang menjadi kedok AS untuk memasukkan armadanya ke Laut China Selatan. Pasalnya, China dengan nine-dash-line hampir mengklaim semua wilayah perairan yang kaya akan sumber daya energi di Laut China Selatan. China bahkan telah membuat beberapa pos militer di pulau-pulau reklamasi.

Merespons agresivitas China, AS menuduh telah memiliterisasi Laut China Selatan dan berusaha mengintimidasi claimant state yang merupakan negara ASEAN (Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam), serta ingin mengeksploitasi cadangan minyak dan gas di perairan tersebut.

Sementara, ikut campurnya AS di Laut China Selatan membuat Menteri Pertahanan China Wei Fenghe melakukan pembicaraan tertutup dengan Menteri Pertahanan AS Mark Esper, di sela-sela ASEAN Plus Summit.

Wei diketahui mendesak Esper untuk berhenti "melenturkan otot-ototnya" dan tidak memprovokasi serta meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan. Pernyataan ini dibalas Esper dengan tuduhan bahwa China semakin menggunakan paksaan untuk kepentingan strategisnya sendiri.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya