Berita

Ridwan Kamil

Publika

Pejabat Dan Kepentingan Pribadi

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 | 10:11 WIB

DIKISAHKAN suatu malam Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang menyelesaikan tugas. Tiba-tiba datang puteranya.

Umar bertanya tentang keperluannya urusan umat atau pribadi. Ketika dijawab urusan keluarga Umar memadamkan lampu di depannya, gelaplah ruangan.

Puteranya bertanya mengapa lampu dipadamkan? Jawab Umar karena engkau akan membicarakan masalah keluarga, sedangkan lampu ini menyala dibiayai oleh negara. Lalu Umar mengganti dengan lentera milik keluarganya sendiri. Berbincanglah mereka.


Peristiwa di atas adalah pelajaran agama bagi pejabat negara. Mental amanah melekat. Bisa menjaga keuangan dan aset negara. Pribadi dengan biaya pribadi, urusan negara lain lagi.

Pelajaran ini tentu terlalu "radikal" diaplikasikan kini, namun bisa diambil ibrah (pelajaran) bagi pejabat radikal yang seenaknya menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Korupsi terselubung (disguised corruption).

Banyak pejabat yang memanfaatkan rumah, mobil, atau fasilitas lain yang sebenarnya sama sekali tidak berkaitan dengan tugas kenegaraan. Keluar negeri kunjungan "dinas" bawa anak atau istri. Tak sadar bahwa itu adalah penyimpangan. Kecuali yang dibawa dibiayai pribadi. Apalagi sampai si istri belanjanya pun dititipkan dari "belanja" APBD atau APBN.

Di Bandung Gubernur Ridwan Kamil sedang menjadi sorotan soal renovasi rumah dinas berangka Rp 4 miliar lebih. Rp 1,5 miliar konon untuk membuat kolam renang. Alasan keperluan adanya kolam renang ini yang jadi masalah. Yaitu untuk mengobati sakit lutut yang dideritanya. Agar sehat dan segar dapat menunaikan tugas keliling Jawa Barat.

Sorotannya adalah di samping besaran biaya APBD, juga pembuatan kolam renang itu untuk hal "pribadi" sakit lutut. Sebab tidak semua Gubernur (sebagaiman selama ini) memerlukan kolam renang. Tentu sebagai Gubernur ia telah menerima pendapatan khusus untuk  biaya kesehatan. Kemanapun ia berobat.

Semestinya bukan dana APBD yang digunakan. Rakyat saja pakai BPJS untuk meringankan. Mengapa Gubernur tidak?

Ada lagi informasi seorang dokter bedah di medsos katanya jika sakit lutut pengobatannya adalah arthroscopy atau arthrosplasty yang biaya maksimal Rp 200 juta, bukan kolam renang Rp 1,5 M. Ia mengkritik pembangunan ini. Itu urusan medik.

Nah kembali pada fasilitasi dinas atau pribadi kiranya para pejabat harus lebih apik dan hati hati. Korupsi bukan dilakukan rakyat jelata yang tak punya apa apa tetapi oleh para pejabat yang bergelimang fasilitas.

Korupsi bukan karena kekurangan uang untuk diri atau keluarga akan tetapi karena keserakahan dan "mumpungisme". Mumpung sarana ada dan terbuka untuk dapat "mencuri". Cukup dengan tanda tangan atau sedikit lobi.

Pak Gubernur perlu introspeksi. Posisi tinggi selalu menjadi perhatian publik. Baik berprestasi atau cuma berprestise.

Tak perlu keluar keringat atau emosi berapologi atau  berargumentasi. Baiknya terima kritik, berterima kasih dan perbaiki. Beres kan..?

M Rizal Fadillah

Pemerhati politik

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya