Berita

Bom bunuh di Polrestabes Medan/Net

Muhammad Najib

Benarkah Mereka Pejuang Islam?

JUMAT, 15 NOVEMBER 2019 | 14:12 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MASYARAKAT umum menganggapnya "Teroris", akan tetap mereka merasa sebagai "Mujahiddin".

Tidak mudah untuk menyadarkannya, sebagaimana juga tidak mudahnya memutus lingkaran setan kekerasan yang terlanjur terbentuk.

Bom bunuh diri di Polres Medan hanyalah serial kekerasan yang entah sampai kapan akan terus terjadi.


Kasihan para prajurit berseragam coklat yang menjadi sasaran, apalagi dengan sebutan "Thogut" sebagai musuh Tuhan. Begitu juga para pelaku dan keluarganya yang tidak sadar diperlakukan bagai pion di papan catur yang secara periodik dikorbankan, demi kepentingan politik dan ekonomi para pemain di tingkat global.

Mereka umumnya miskin secara ekonomi, juga miskin dalam hal wawasan, sehingga tidak memahami konstalasi politik di tingkat global maupun nasional.

Ditambah dangkalnya paham keagamaan yang dimilikinya, sehingga cendrung berpikir sederhana, yang kemudian menggiringnya untuk mengambil jalan pintas untuk keluar dari himpitan hidup di dunia, untuk meraih surga.

Sungguh mengenaskan dan tidak masuk akal sehat, berjuang dengan bom panci, atau bom pipa yang kelasnya setingkat bom ikan yang setara dengan petasan besar. Sementara yang hendak dilawannya menggunakan rudal, pesawat tempur, drone, kapal selam, kapal induk, dan senjata canggih lainnya.

Lingkaran setan kekerasan sebenarnya dimulai dari Afghanistan, saat Uni Soviet mulai menduduki negara gurun yang miskin ini pada 1979. Melihat ancaman yang datangnya dari negara beruang merah ini, Amerika Serikat bersama negara-negara anggota NATO menggalang kekuatan global untuk membendungnya.

Negara-negara Muslim dikonsolidasi dengan isu ancaman komunisme yang atheis dan anti Tuhan alias "kafir". Maka berduyun-duyun para Mujahiddin berdatangan dari dunia Islam, kemudian masuk dari Pakistan yang menjadi tetangganya, dan terjun ke medan perang Afghanistan.

Setelah Uni Soviet kalah dan mundur dari Afghanistan pada 1989, bahkan bubar sehingga menyisakan Rusia, maka ancaman komunisme yang sangat ditakuti Barat menjadi sirna. Sementara eufora kemenangan para Mujahiddin, yang kemudian mendirikan negara Islam Afghanistan dipandang sebagai ancaman baru bagi Amerika dan sekutunya. Semangat ke-Islaman dalam bernegara, kemudian dipandang sebagai musuh baru bagi Barat.

Maka sejak itu, para mujahiddin yang tadinya dipandang sebagai pahlawan yang disanjung, tiba-tiba berubah status dan diberi stempel "Teroris" yang harus dibasmi.

Meskipun sebagian besar para mujahiddin sudah menanggalkan senjata, dan kembali ke negaranya masing-masing, mereka tetap dipandang berbahaya. Karena itu, mereka harus terus diburu tanpa ampun.

Di Indonesia negara-negara yang memburu mereka bekerjasama dengan kepolisian. Hal inilah yang menyebabkan polisi menjadi sasaran para teroris yang dijulukinya Thogut.

Persoalannya menjadi bertambah rumit, karena pada saat bersamaan ketidakadilan terhadap dunia Islam di tingkat global terus dipraktikan.

Tindakan semena-mena Amerika dan sejumlah negara anggota NATO di Timur Tengah. Pembelaan membabi-buta kepada Israel, sementara penderitaan rakyat Palestina dibiarkan terus menyayat hati dan menguras air mata, yang sudah sampai menyentuh titik nadir kemanusiaan.

Karena itu, tidak mudah untuk memutus lingkaran setan kekerasan di tanah air, selama sumber masalahnya berupa ketidakadilan di tingkat global masih terus berlangsung. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya