Berita

Marsekal Hadi Tjahjanto/Net

Publika

Pamor TNI Runtuh, Presiden Joko Widodo Akan Segera Ganti Marsekal Hadi Tjahjanto?

KAMIS, 14 NOVEMBER 2019 | 16:10 WIB | OLEH: HARIS RUSLY MOTI

PRESIDEN Joko Widodo telah mengganti kepala Polri yang dijabat Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian. Jenderal Idham Azis “dimahkotai” untuk memimpin Polri.

Perggantian Jenderal Tito sebagai kapolri itu memang terasa sangat mengejutkan, lantaran masa pensiun Jenderal Tito yang masih cukup lama. Namun, begitulah hak prerogatif presiden berbicara.

Menyusul perubahan kepemimpinan di tubuh Polri tersebut, wajar jika banyak pihak mendesak agar Presiden Joko Widodo juga segera melakukan perubahan kepemimpinan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Meskipun pemilihan calon panglima TNI tersebut merupakan hak prerogatif presiden. Namun, penting bagi Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan pandangan yang berkembang publik.

Banyak pertimbangan di balik desakan itu, di antaranya pertimbangan normatif seperti perlunya regenerasi. Selain itu, adalah pertimbangan aktual, terkait menurunnya tingkat kepercayaan publik kepada institusi TNI.

Menurut pandangan kami, Presiden Joko Widodo bertanggung jawab untuk mengembalikan pamor atau kepercayaan rakyat kepada institusi TNI yang runtuh di era kepemimpinan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Bisa dibayangkan, selama ini berkembangnya persepsi di publik, yang menganggap bahwa Panglima TNI Marsekal Hadi semata sebagai wakil kepala Polri yang dijabat Tito. Persepsi seperti ini sangat melecehkan dan merugikan institusi TNI.

Persepsi seperti itu bisa berkembang pasti ada sebabnya, tidak ujug-ujug. Ada asap pasti ada apinya. Persepsi seperti itu berkembang lantaran masalah kapasitas kepemimpinan dan intelektual di dalam diri Marsekal Hadi.

Persepsi negatif kepada Marsekal Hadi Tjahjanto tersebut berimbas langsung menjadi persepsi negatif kepada institusi TNI. Survei opini publik yang dilakukan oleh LSI Denny JA membuktikan menurunnya persepsi positif tersebut.

Hasil survei yang diumumkan pada Rabu, 13 November 2019 itu membuktikan terjadi penurunan kepercayaan kepada institusi TNI. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya di mana institusi TNI menempati peringkat teratas sebagai institusi paling terpercaya, menurun beberapa digit.

Dari 90,4 persen di tahun-tahun sebelumnya menjadi 89 persen di era kepemimpinan Marsekal Hadi.

Perlu ditekankan bahwa masalah Hadi Tjahjanto bukan masalah antara matra di dalam tubuh TNI. Setiap matra pasti memiliki perwira terbaik yang mempunyai kapasitas untuk memimpin TNI.

Masalah Hadi Tjahjanto adalah masalah kapasitasnya, baik kapasitas leadership maupun kapasitas intelektual yang tidak kompatibel dengan tantangan zaman.

Sebagai contohnya ketika Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menanggapi teror berdarah di Polres Medan, di sebuah acara di Bogor, 13 November 2019.

"Di antara ancaman revolusi industri 4.0 adalah peristiwa yang terjadi dalam tempo yang singkat, kita tak membayangkan tiba-tiba terjadi, “Bang!” bom, di Medan terjadi bom bunuh diri," ujar Marsekal Hadi.

Marsekal Hadi mungkin perlu membuka buka kembali Google untuk melihat ciri ciri serangan teror yang dilakukan oleh terorisme dari berbagai generasi.

Pada dasarnya hampir seluruh kejadian teror, baik teroris generasi 3.0 maupun teroris generasi 4.0, selalu dilakukan dengan efek kejut, cepat, singkat dan tidak dapat diduga sebelumnya, baik waktu, sasaran maupun pelakunya. Jadi, kejadian bom Medan bukanlah ciri dari ancaman revolusi 4.0.

Perhatikan teror 911 yang meruntuhkan gedung WTC di Amerika, semuanya berlangsung sangat eskalatif, sangat cepat tak dapat diprediksi sebelumnya.

Demikian juga teror bom di dalam negeri, di Bali, Kedubes Australia hingga teror bom Marriot. Semua peristiwa teror yang sangat eskalatif itu terjadi sebelum berlangsung revolusi 4.0.

Jangan kemudian kita mengkambinghitamkan revolusi 4.0 untuk menutupi ketidakmampuan dan kegagalan kita sebagai pemimimpin negara dalam melindungi segenap tumpah darah Indonesia yang diamanatkan di dalam Pembukaan UUD 1945.

Penulis adalah Kepala Pusat Pengkajian Nusantara-Pasifik (PPNP)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya