Berita

Presiden Joko Widodo/Ist

Bisnis

Jokowi Minta Jangan Terus-Terusan Impor, Arief Poyuono: Memang Kang Mas Bisa Kontrol?

RABU, 13 NOVEMBER 2019 | 20:50 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo mengeluarkan ketegasannya soal impor sejumlah komoditas. Saat acara Kongres Nasdem, Presiden meminta kepada jajaran menterinya untuk tak lagi mengeluarkan kebijakan impor.

Hal ini pun langsung direspons Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono yang menilai persoalan impor bukan perkara mudah.

"Permasalahan izin impor beberapa komoditas itu sudah jadi praktik mafia impor Kang Mas (Jokowi), yang melibatkan anak buah Kang Mas dan jajarannya," kata Arief dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (13/11).


Selama ini, jelasnya, jajaran di bawah Jokowi hanya keluarkan izin, sedangkan praktik impor hanya dinikmati oleh para pengusaha importir.

Lantaran sudah berlangsung lama, ia pun tak yakin ketegasan Jokowi tersebut dapat menghentikan praktik para mafia tersebut.

"Dan apa iya Kang Mas bisa langsung mengontrol? Karena fee-fee impor komoditas itu banyak digunakan untuk biaya politik loh," paparnya.

Selain itu, praktik tersebut sulit dihilangkan lantaran sejumlah industri masih bergantung pada produk impor, seperti halnya bidang chemical, plastik, kulit, tekstil, pupuk, otomotif, bahkan hingga bahan tempe dan tahu serta terigu.

"Semua bahan bakunya masih impor mas, dan industri kita belum ada yang mampu memproduksi bahan bakunya. Nah kalau komoditas itu distop semua, bisa-bisa banyak buruh di-PHK," tegas Ketum Serikat Buruh BUMN Bersatu ini.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah defisit neraca perdagangan yang salah satunya disebabkan oleh penurunan harga dan permintaan komoditas ekspor Tanah Air dalam bentuk bahan baku.

Penurunan pertumbuhan ekonomi China menjadi 6 persen mau tak mau telah berdampak kepada turunnya permintaan komoditas ekspor Tanah Air. Diketahui, China merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar.

Indonesia juga harus mewaspadai pelemahan mata uang Yuan. Sebab, jelasnya, penurunan Yuan akan berdampak pada banjirnya produk-produk dari China ke Indonesia yang berpotensi menghancurkan industri dalam negeri.

"Misalnya besi. Nah karena itu, Kang Mas harus punya jalan keluar yang benar-benar mantap menaikkan neraca perdagangan kita. Pastilah tim ekonomi Kang Mas yang super akan bisa mengatasi ini," paparnya.

"Yang penting tolong diawasi NPL perbankan nasional kita Kang Mas. Jangan sampai akibat situasi ekonomi yang lesu, tahu-tahu banyak bank yang gagal bayar. Bahaya nanti mas," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya