Berita

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian/RMOL

Jaya Suprana

Kaji Ulang Pemilu

SELASA, 12 NOVEMBER 2019 | 06:04 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

RMOL.ID memberitakan bahwa meski tingkat partisipasinya tinggi, namun sistem pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung dinilai negatif lantaran biaya politik yang sangat tinggi.

Kaji Ulang

Maka  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mewacanakan untuk melakukan kaji ulang pemilu.


“Pertanyaan saya adalah apakah sistem politik Pilkada ini masih relevan setelah 20 tahun. Banyak manfaatnya partisipasi demokrasi, tapi kita lihat mudharatnya juga ada, politik biaya tinggi. Kepala Daerah kalau enggak punya Rp 30 Miliar mau jadi bupati mana berani dia. Udah mahar politik,” kata Tito usai RDP dengan Komisi II, di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/11).

Sebagai Mendagri, Tito meminta agar sistem Pilkada langsung ini dikaji ulang.

“Survei. Laksanakan riset akademik. Riset akademik tentang dampak negatif dan positif pemilihan Pilkada langsung. Kalau dianggap positif, fine. Tapi bagaimana mengurangi dampak negatifnya? Politik biaya tinggi,” ujar Tito.

Sebagai mantan Kapolri, Tito  mengaku prihatin dengan banyaknya Kepala Daerah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) lembaga antirasuah. Purnawirawan jenderal bintang empat ini tidak percaya jargon setiap Kepala Daerah pada saat kampanye ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa.

E-voting

Sebagai rakyat jelata yang semula mendukung kemudian prihatin terhadap apa yang disebut sebagai pemilu langsung akibat terbukti bukan saja mahal biaya namun juga mengorbankan nyawa para penyelenggara pemilu, saya antusias menyambut rencana Menteri Dalam Negeri melakukan kaji ulang pemilu. Pemilu langsung secara manual juga terbukti rawan kecurangan sama halnya dengan pemungutan pajak secara manual.

Pemilu sebaiknya jangan memilukan. Maka saya menyampaikan saran agar pemilu di persada Nusantara diselenggarakan secara bukan manual tetapi elektronikal alias apa yang disebut sebagai e-voting.

Kemauan

Masalah pewujudan memang tidak sederhana sebab pemilu elektronikal pasti akan mendapat perlawanan dari para pihak yang sudah menikmati nikmatnya keuntungan politis mau pun komersial dari pemilu manual. Namun apabila benar-benar diyakini bahwa pemilu e-voting mampu menekan biaya penyelenggaraan pemilu serta mencegah kecurangan apalagi mengurangi resiko jatuhnya korban nyawa maka pada hakikatnya tidak alasan untuk menolak  e-voting.

Sebenarnya sejak lama, para ilmuwan BPPT sudah menyatakan siap mendukung teknologi dan sistem penyelenggaraan e-voting di Indonesia. Kalau mau pasti mampu. Kalau tidak mampu berarti memang sekedar tidak mau.

Penulis adalah rakyat yang mendambakan pemilu yang jujur dan hemat-biaya serta tidak mengorbankan nyawa seorang rakyat pun.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya