Berita

Lula da Silva disambut para pendukungnya/Reuters

Dunia

Bebas Dari Penjara, Eks Presiden Brasil Lula da Silva Bawa Energi Baru Bagi Kubu Kiri

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 | 09:24 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mantan pemimpin Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menjadi momok baru bagi Presiden Brasil Jair Bolsonaro. Betapa tidak, baru selang sehari setelah dibebaskan dari penjara, Lula segera lantang menyuarakan kritik atas kebijakan Bolsonaro yang dia anggap memiskinkan pekerja Brasil.

Di hadapan para pendukungnya, dia menegaskan janjinya untuk menyatukan kubu kiri demi memenangkan pemilu 2022 mendatang dan menggantikan pemerintahan Bolsonaro.

Dalam pidato selama 45 menit, Lula yang merupakan presiden Brasil antara tahun 2003 hingga 2010 itu membidik daftar panjang musuh-musuh politiknya, termasuk Bolsonaro, Menteri Ekonomi Paulo Guedes dan Menteri Kehakiman Sergio Moro.


"Saya ingin memberi tahu mereka, saya kembali," kata pria berusia 74 tahun itu kepada ratusan pendukungnya yang  berpakaian merah, warna Partai Buruh.

"Jika kita bekerja keras, pada tahun 2022 yang disebut kiri itu Bolsonaro sangat takut akan mengalahkan ultra-kanan," katanya seperti dimuat Reuters.

Secara hukum, Lula tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai presiden di negara tersebut hingga tahun 2025. Hal itu dikarenakan dia harus membuat "catatan bersih" setelah mendekam di balik jeruji besi karena kasus suap yang menjeratnya pada tahun 2018.

Dia dinyatakan bersalah menerima suap dari perusahaan konstruksi dengan imbalan kontrak publik. Namun Lula tidak pernah mengakui tuduhan yang dilayangkan padanya dan menyebut bahwa kasus itu dibuat dengan motif politik.

Lula dibebaskan pada Jumat (8/10) setelah Mahkamah Agung Brasil mengeluarkan putusan untukengakhiri hukuman penjara wajib bagi para penjahat yang dihukum setelah mereka kehilangan banding pertama mereka.

Meski begitu, pembebasan Lula diperkirakan akan memberikan energi baru bagi kaun kiri menjelang pemilihan kota tahun depan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya