Berita

Evo Morales/Net

Dunia

Polisi Ikut Aksi Protes Anti-Pemerintah, Presiden Morales: Demokrasi Bolivia Tersakiti

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 | 06:47 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

RMOL. Di tengah gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang semakin meluas di Bolivia, Presiden Evo Morales mengeluarkan kecaman keras.

Dia menilai bahwa gelombang protes tersebut tidak lain merupakan bentuk kudeta. Bahkan, alih-alih mengamankan situasi, petugas polisi pun ikut ambil bagian dalam aksi unjuk rasa tersebut.
Melalui akun Twitternya pada Sabtu (9/11), Morales mengatakan bahwa demokrasi Bolivia tersakiti dengan gelombang unjuk rasa dan kekerasan yang terjadi. Dia menyebut, pemberontakan polisi yang ikut dalam aksi tidak lain seperti bentuk kudeta.

"Demokrasi kita beresiko karena kudeta yang dilancarkan kelompok-kelompok kekerasan yang merusak tatanan konstitusional," tulis Morales di akun Twitternya.

"Demokrasi kita beresiko karena kudeta yang dilancarkan kelompok-kelompok kekerasan yang merusak tatanan konstitusional," tulis Morales di akun Twitternya.

Dia menyerukan kepada warga Bolivia untuk melindungi demokrasi dan konstitusi negara.

"Di hadapan komunitas internasional, kami mengecam serangan terhadap aturan hukum ini," tegasnya.

Diketahui bahwa gelombang unjuk rasa muncul setelah hasil pemilu yang disengketakan muncul. Dalam pemilu 20 Oktober lalu, Morales kembali terpilih menjadi orang nomor satu di Bolivia. Namun penghitungan suara sempat dihentikan selama hampir satu hari pasca pemilu.

Hal itu memicu kecaman dari pihak oposisi yang menilai bahwa ada kecurangan yang dibuat. Kecaman itu kemudian berubah menjadi protes dan aksi unjuk rasa. Massa turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi serta melakukan penutupan di jalan-jalan utama ibukota Bolivia.

Sementara itu, pemimpin sipil oposisi dari kota ibur Santa Cruz, Luis Fernando Camacho menilai bahwa aksi yang dilakukan di jalanan bukanlah untuk menggulingkan presiden, melainkan menggulingkan diktator.

"Kami datang bukan untuk menggulingkan seorang presiden, kami telah membebaskan Bolivia dari kediktatorannya," tulisnya di Twitter, seperti dikabarkan Al Jazeera.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya