Berita

Lanyalla Mahmud Mattalitti-Scott Ryan/Net

Politik

Kepada Delegasi DPD, Presiden Senat Australia Kembali Tegaskan NKRI Harga Mati

SABTU, 09 NOVEMBER 2019 | 10:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Presiden Senat Australia Scott Ryan menegaskan bahwa integritas wilayah dan kedaulatan Indonesia atas Papua adalah harga mati yang tidak perlu dibahas lagi. Penegasan itu disampaikannya dalam pertemuan bilateral dengan Ketua DPD RI Lanyalla Mahmud Mattalitti di sela-sela sidang pimpinan parlemen MIKTA di Meksiko, Jumat (9/11).

Pernyataan itu dia berikan kepada delegasi DPD RI setelah mendapat pertanyaan tajam dari Ketua DPD RI Lanyalla Mahmud Mattalitti tentang adanya oknum-oknum anti-Indonesia yang terus berkampanye dari Australia untuk merongrong kedaulatan RI khususnya tentang Papua.

Lanyalla mengatakan, kelompok-kelompok ataupun okum-oknum anti-Indonesia dulu berkampanye dari Australia sampai Timor Timur sebagai propinsi ke 27 akhirnya lepas dari Indonesia. Sekarang mereka berkampanye lagi dari Australia termasuk tentang kerusuhan yang terjadi di Papua belum lama ini.


Karena itu, Ketua DPD RI ingin mendengar sendiri dari pimpinan Senat Australia tentang sikap Australia terhadap masalah ini.

Menjawab pernyataan tegas itu, pimpinan Senat Australia kembali menegaskan bahwa sepak terjang segelintir orang di Australia tidak dapat menggambarkan sikap resmi pemerintah dan rakyat Australia.

Penegasan Presiden Senat Australia tersebut adalah untuk kedua kalinya disampaikan kepada DPD RI tentang Papua. Sebelumnya, pada Desember 2016, Presiden Senat Australia Stephen Parry juga telah menegaskan bahwa Pemerintah Australia tidak akan berubah sikap tentang Papua, sebab Papua adalah bagian integral dari NKRI.

Namun demikian, akhir-akhir ini masih terdapat banyak petualang politik yang beroperasi dari Australia untuk memancing perlawanan menuju disintegrasi wilayah NKRI di Papua. Inilah sebabnya maka dalam pertemuan dengan Presiden Senat Australia kemarin, Ketua DPD RI kembali mempertanyakan sikap pemerintah, DPR, dan Senat Australia tenang hal ini.

Duta Besar Indonesia untuk Meksiko, Cheppy Wartono, yang mendampingi Ketua DPD RI menambahkan bahwa sebaiknya pemerintah Australia merepatriasi para petualang politik tersebut agar gerakan pengacau semacam ini bisa diredam aktivitasnya dalam semangat menjaga hubungan baik antara Australia dan Indonesia.

Pihak Australia menegaskan bahwa sudah ada mekanisme kerjasama antara aparat keamanan kedua negara yang akan ditaati. Tetapi perlakuan Australia terhadap Indonesia haruslah sama dengan perlakuan Australia terhadap negara sahabat lainnya juga.

Dalam pertemuan bilateral ini, Ketua DPD RI juga mengingatkan kepada pimpinan Senat Australia bahwa di sela-sela pertemuan MIKTA di Seoul pada awal Juli 2015 pimpinan Senat kedua negara telah bersepakat untuk melanjutkan pembahasan tengan perlunya kawasan pertumbuhan baru yang mencakup Indonesia bagian timur dan Australia bagian utara.

Presiden Senat Australia mengatakan bahwa dia baru saja menduduki posisi tersebut sehingga perlu melihat kembali terlebih dahulu apa saja yang sudah disepakati oleh pimpinan Senat kedua negara; setelah itu barulah dia dapat memberikan pendapatnya.

Namun demikian, tukas Scott Ryan, Januari tahun depan akan diselenggarakan pertemuan pimpinan parlemen negara-negara sahabat di Canberra; karena itu dia mengundang Ketua DPD RI untuk menghadirinya bersama Ketua DPR RI.

Pertemuan bilateral antara pimpinan Senat kedua negara itu dihadiri juga oleh Wakil Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, Wakil Ketua Badan Kerjasama Parlemen Richard Hamonangan Pasaribu, Wakil Ketua Komisi II DPD RI Bustami Zainudin, dan Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek.

Sebelumnya, Sultan Baktiar dan Richard Pasaribu juga ditugasi Lanyalla untuk menyampaikan pendapat Indonesia terhadap berbagai topik yang dibahas dalam persidangan MIKTA tersebut.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya