Berita

Foto: Ist

Jaya Suprana

Dari Doclea Ke Podgorica

SENIN, 04 NOVEMBER 2019 | 20:30 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA berkunjung ke Montenegro, saya belum sadar bahwa Podgorica sebagai Ibukota Montenegro sempat menyandang nama Titograd demi menghormati sang pemimpin besar Republik Federal Sosialis Yugoslawia, Jofis Broz Tito.

Titograd

Pada 25 Juli 1948, Wakil Presiden Parlemen Rakyat Montenegro, Andrija Mugoša, bersama dengan sekretaris Gavro Cemović, menandatangani undang-undang yang mengubah nama Podgorica menjadi "Titovgrad". Undang-undang itu "berlaku surut" sehingga perubahan nama berlaku untuk dokumen apapun mulai 13 Juli 1946, ketika ia menjadi ibukota Montenegro di dalam Republik Federal Sosialis Yugoslavia yang baru dibentuk demi menghormati Josif Broz Tito.


Namun, kode hukum Yugoslavia resmi mencatat nama "Titovgrad" tanpa huruf "v” sehingga akhirnya ibukota Montenegro menyandang nama "Titograd".

Yugoslavia

Ketika Yugoslavia mulai bubar, Titograd kembali diganti namanya menjadi Podgorica. Sebenarnya Perang Yugoslavia tidak menghancurkan Montenegro seperti misalnya Bosnia, namun seluruh negeri Montenegro sangat terpengaruh oleh stagnasi ekonomi yang parah serta hiperinflasi yang berlangsung sepanjang 1990-an akibat sanksi PBB. Pada tahun 1999, Podgorica menjadi sasaran serangan udara selama pengeboman NATO terhadap Yogaslavia. Menyusul hasil referendum kemerdekaan Montengero pada Mei 2006, Podgorica menjadi ibukota resmi negara merdeka.

Pada 13 Oktober 2008, 10.000 warga Podgorica memprotes proklamasi  kemerdekaan Kosovo. Pada Oktober 2015, protes terjadi di Podgorica menjelang aksesi Montenegro ke NATO. Setelah unjuk-rasa oleh sedikitnya 5.000 hingga 8.000 orang, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran di depan gedung parlemen. Protes di Podgorica terus berlanjut sampai pemilihan parlemen Montenegro 2016.

Pada 22 Februari 2018, seorang veteran Angkatan Darat Yugoslavia bunuh diri di kedutaan besar AS di Podgorica. Mayoritas warga Podgorica yang kita jumpai masih bersikap sinis terhadap pemerintah Montenegro masa kini. Terutama generasi tua menganggap rezim Republik Federasi Sosial Yugoslawia lebih baik ketimbang pemerintah demokratis masa kini.

Cheng Ho

Kini Podgorica merupakan rumah bagi tiga kelompok agama utama: Kristen Ortodoks, Muslim Sunni, dan Kristen Katolik. Populasi Kristen Ortodoks sebagian besar berasal dari populasi Montenegro dan Serbia lokal, yang menerima Kristen Ortodoks pada Abad Pertengahan setelah perpecahan besar selama Skisma Besar. Mereka mewakili kelompok agama utama. Ada berbagai gereja Ortodoks Timur di Kota seperti Gereja St. George yang berasal dari abad ke-13, atau Katedral Kebangkitan Kristus sebagai replika Katedral Belgrad yang merupakan gereja terbesar di Podgorica yang baru-baru ini saja diresmikan.

Populasi Muslim sebagian besar berasal dari Bosnia serta Albania. Ada beberapa masjid di Podgorica. Di Podgorica, Ibu Ayla dan saya sempat menikmati masakan China halal di restoran Cheng Ho demi mengenang laksamana armada angkatan laut Kublai Khan yang Muslim dan sempat singgah ke persada Nusantara.

Doclea

Populasi Katolik terutama terdiri dari minoritas Albania lokal. Situs religius utama bagi umat Katolik yang terletak lingkungan Gereja Hati Kudus Yesus yang mulai dibangun sejak tahun 1966 dengan gaya arsitektural yang unik. Di pinggiran kota Podgorica masa kini, para wisatawan kebudayaan masih dapat mengunjungi situs asal-muasal ibukota Montenegro yang di zaman Romawi disebut sebagai Doclea. Masih tersisa puing-puing arkeologis Doclea sebagai petilasan Podgorica di tengah kawasan perkebunan anggur yang menjadi primadona produk ekspor Montenegro masa kini.

Penulis adalah pembelajar kebudayaan dunia


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya