Berita

Ilustrasi radikalisme/Net

Politik

Ace Hasan: Radikalisme Tak Cuma Islam, Di Agama Lain Juga Ada

SENIN, 04 NOVEMBER 2019 | 17:22 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Istilah radikalisme selalu menjadi perdebatan di masyarakat. Perdebatan terjadi baik di dalam perspektif akademik maupun dari segi praktik-praktik politik.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily terkait wacana penggantian radikalisme agama dengan manipulator agama oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Istilah radikalisme ini masih menjadi perdebatan baik di dalam perspektif akademik maupun politik. Itu tidak hanya berlaku pada Islam saja tetapi juga agama-agama lain. Dan bukan cuma aspek agama tetapi juga radikalisme terhadap chauvanisme, suku, ras dan lain-lain," ujar Ace kepada wartawan, Senin (4/11).


Ace menambahkan, radikalisme agama adalah kekerasan yang dilakukan dengan mengatasnamakan agama tertentu. Padahal, prinsip beragama tidak mengajarkan kekerasan.

“Intinya adalah kekerasan yang sering terjadi kerap kali disebabkan karena orang membenturkan antara pemahaman keagamaan, yang bisa jadi itu dijadikan sebagai instrument untuk meraih hal-hal yang memang di luar semangat keagamaan itu sendiri," papar Ace.

"Sehingga dengan mudah orang melakukan kekerasan atas nama agama. Padahal sejatinya agama kan seharusnya memang tidak boleh melakukan kekerasan," lanjutnya.

Lebih lanjut, politisi Partai Golkar itu menuturkan, radikalisme agama ini sangat berbahaya karena melanggar nilai-nilai dalam agama itu sendiri.

“Karena hal tersebut selain bisa meruntuhkan sendi-sendi agama, bisa lebih daripada itu yakni melanggar nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keagamaan itu sendiri," tuturnya.

Ace menyarankan agar pemerintah memaksimalkan peran ormas keagamaan untuk melawan radikalisme. Dengan catatan, ormas itu sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Dia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak mencampuri paham keagamaan masyarakat karena hal itu bisa menimbulkan resistensi terhadap pemerintah.

"Jangan negara terlalu banyak, terlalu intervensi terhadap pemahaman keagamaan, biar itu menjadi domain dari kelompok civil society Islam. Kalau negara terlalu ikut campur dalam urusan pemahaman keagamaan seseorang, maka saya khawatir itu akan menimbulkan resistensi di antara masyarakat itu sendiri," tutupnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya