Berita

Khamenei/Net

Dunia

Khamenei: Perselisihan Iran Bukan Bermula Dari Penggulingan Shah Reza Pahlevi

SENIN, 04 NOVEMBER 2019 | 07:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kembali mengesampingkan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait ketegangan yang terjadi di antara kedua negara tersebut.

"Mereka yang melihat negosiasi dengan Amerika Serikat sebagai solusi untuk setiap masalah tentu saja keliru," kata Khamenei dalam pidatonya (Minggu, 3/11), sehari sebelum peringatan 40 tahun krisis sandera di kedutaan besar Amerika Serikat di Teheran.

"Tidak ada yang keluar dari berbicara dengan Amerika Serikat, karena mereka pasti dan pasti tidak akan membuat konsesi," tegasnya, seperti dimuat Al Jazeera.


Diketahui bahwa krisis sandera di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran terjadi pada tanggal 4 November 1979. Pada saat itu, kurang dari sembilan bulan setelah penggulingan Shah Iran yang didukung Amerika Serikat, Mohammad-Reza Pahlevi, para siswa menyerbu kompleks kedutaan untuk menuntut Amerika Serikat menyerahkan penguasa yang digulingkan setelah ia dirawat di rumah sakit di negeri Paman Sam.

Butuh 444 hari untuk krisis berakhir dengan pembebasan 52 orang warga Amerika Serikat. Namun kemudian, Amerika Serikat memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada tahun 1980 dan membekukan hubungan lebih lanjut sejak saat itu.

Namun Khamenei mengatakan bahwa perselisihan Iran-Amerika Serikat tidak dimulai dengan pengambilalihan kedutaan.

"Itu kembali ke kudeta tahun 1953, ketika Amerika Serikat menggulingkan pemerintah nasional, yang telah membuat kesalahan dengan mempercayai Amerika Serikat dan mendirikan pemerintahan boneka dan korupnya di Iran," kata akun Twitternya.

Dia menambahkan, kudeta yang diorganisir CIA itu, didukung oleh Inggris dan berhasil menggulingkan perdana menteri yang sangat populer, Mohammad Mossadegh, yang bertanggung jawab untuk menasionalisasi industri minyak Iran.

Kudeta kemudianmenetapkan aturan Shah Pahlavi terakhir negara itu yang telah meninggalkan negara itu pada Agustus 1953 setelah mencoba memberhentikan Mossadegh.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran 2015 tahun lalu dan menerapkan kembali sanksi sepihak.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya