Berita

Presiden Brasil Jair Bolsonaro/Net

Dunia

Geram Dikaitkan Dengan Kasus Pembunuhan, Presiden Brasil Ancam Putus Lisensi TV

KAMIS, 31 OKTOBER 2019 | 07:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengancam akan membatalkan lisensi sebuah jaringan TV terbesar di negara tersebut, yakni Globo. Ancaman itu dikeluarkan setelah dia menuduh Globo menjalankan jurnalisme jahat dengan memuat laporan yang menghubungkannya dengan seorang mantan polisi yang dituduh membunuh anggota dewan kota Rio de Janeiro Marielle Franco tahun lalu.

TV Globo melaporkan pada awal pekan ini bahwa hanya selang beberapa jam sebelum pembunuhan yang terjadi pada bulan Maret 2018, tersangka diduga telah mengatakan kepada penjaga pintu bahwa dia akan pergi ke rumah Bolsonaro. Karena itulah, dia mendapatkan akses ke tempat yang dijaga ketat dan melancarkan aksinya.
 
Pasca pembunuhan itu, penyelidik menangkap dua mantan perwira polisi, yakni Ronnie Lessa dan Elcio de Queiroz hampir setahun kemudian. Mereka dituduh membunuh Franco dengan imbalan sekitar 50 ribu dolar AS. Kasus ini memicu protes luas di Brasil.


Bolsonaro yang mulai menjabat awal tahun ini, telah membantah ada kaitannya dengan kasus tersebut. Dia mengatakan bahwa dia berada di Brasilia pada hari pembunuhan.

"Ini adalah jurnalisme busuk dan kejam yang dilakukan oleh TV Globo," kata Bolsonaro dalam video langsung di media sosial.

Menyusul laporan itu, Bolsonaro menuduh media dan bekas sekutu, Gubernur Rio Wilson Witzel, berkonspirasi untuk menyerangnya dan keluarganya.

Bolsonaro kemudian mendiskusikan garis waktu untuk memperbarui lisensi jaringan, yang merupakan bagian dari Grupo Globo, grup media terbesar di Brasil yang mencakup TV, penerbitan, konten internet, dan label musik.

"Kita akan bicara pada 2022," kata Bolsonaro, seperti dikabarkan Al Jazeera.

"Anda lebih baik berharap saya sudah mati pada saat itu, karena proses pembaruan tidak akan menjadi penganiayaan, tapi tidak akan ada solusi untuk Anda atau siapa pun," sambungnya.

Dalam sebuah pernyataan, Globo menyatakan penyesalan tentang komentar Bolsonaro dan mengatakan tujuannya adalah untuk memberi tahu publik Brasil.

Sementara terkait pembaruan lisensinya, pihak Globo mengatakan telah memenuhi kewajibannya selama 54 tahun terakhir.

Sedangkan Komite untuk Perlindungan Jurnalis (CPJ) meminta Bolsonaro untuk menahan diri dari menghina dan mengancam media.

"Ancaman dan penghinaan Presiden Bolsonaro terhadap penyiar berita terbesar di Brasil tidak memiliki tempat dalam demokrasi," kata Koordinator Program CPJ Central dan Amerika Selatan Natalie Southwick dalam sebuah pernyataan.

"Warga Brazil memiliki hak untuk mengakses berita tanpa batasan pemerintah, dan kemampuan pemerintah untuk mengeluarkan lisensi tidak boleh digunakan sebagai bentuk sensor," tambahnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya