Berita

Tokoh nasional, DR Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Visi Jokowi Bagus, Tapi Personalia Yang Dipilih Cuma Kelas 5 Persen

SABTU, 26 OKTOBER 2019 | 03:41 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Visi yang disampaikan Presiden Joko Widodo selalu bagus, baik di periode pertama maupun di periode kedua. Hanya saja, penerapan visi itu di lapangan juga selalu berbelok arah.

Tokoh nasional, DR Rizal Ramli memuji visi Jokowi lima tahun lalu yang ingin agar produksi pangan meningkat dan Indonesia berdaulat di bidang pangan. Tapi yang terjadi, selama memerintah Jokowi justru banyak melakukan impor yang justru mematikan petani.

“Kepingin batasin impor, tapi malah impornya Indonesia ugal-ugalan. Itu karena menterinya yang dipilih raja impor,” ujarnya dalam talkshow bertajuk “Kupas Tuntas Wajah Baru Pembantu Jokowi” yang disiarkan salah satu TV swasta nasional, Kamis (24/10) lalu.


Tidak hanya soal impor. Jokowi dulu juga ingin ekonomi berpihak para rakyat dengan mengusung nawacita trisakti. Tapi yang terjadi lagi-lagi salah arah.

“Kebijakan malah neoliberal. Karena memilih menteri seperti SPG (Sales Promotion Girl) dari Bank Dunia,” tegasnya.

Seharunya, sambung pria yang akrab disapa RR itu, Jokowi belajar dari kesalahan di lima tahun pertama. Dalam hal ini, konsistensi visi dan strategi tidak sesuai dengan personalia yang dipilih. Sebab, tanpa strategi dan personalia, visi besar Jokowi akan percuma.

Menko Perokonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu kemudian menyinggung mengenai visi besar Jokowi saat memberi sambutan pelantikan sebagai presiden. Gagasan tersebut, katanya, bagus dan bisa diwujudkan.

Ada dua negara yang sudah berhasil mewujudkan mimpi semacam itu. Dia mencontohkan China yang berhasil membuat ekonomi tumbuh secara konsisten di atas 12 persen dan 25 tahun kemudian menjadi raksasa ekonomi dunia. Begitu juga dengan Jepang yang sempat luluh lantah pasca perang dunia II.

“Jadi waktu saya denger pidato Pak Jokowi pidato pelantikan. Wah ini hebat. Ini bakal berubah dari sebelumnya yang cuma pas-pasan 5 persen,” urainya.

Namun begitu, penilaiannya langsung berubah 180 derajat setelah melihat susunan menteri. Sebab, ada menteri yang gagal di bidang ekonomi dan tetap dipertahankan. Di bawah menteri tersebut, ekonomi Indonesia hanya mentok di angka 5 persen.

“Begitu dipilih personalianya dalam bidang ekonomi, wah ini kelas 5 persen. Bahkan tahun depan bakal anjlok lagi,” tegasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya