Berita

Pengungsi Kurdi/Net

Muhammad Najib

Nasib Suku Kurdi Dalam Percaturan Politik Di Timur Tengah

KAMIS, 24 OKTOBER 2019 | 15:56 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SAAT tentara Amerika Serikat memasuki wilayah suku Kurdi di Suriah Timur Laut, mereka dielu-elukan oleh penduduk setempat yang turun ke jalan sembari membawa bunga.

Kini saat tentara Amerika meninggalkan wilayah itu, mereka dicemooh dan dicaci-maki serta dicemooh sebagai pengkhianat, sembari dilempari dengan buah busuk.

Nasib suku Kurdi di Suriah sebenarnya tidak beda dengan saudaranya yang berada di Irak. Dirangkul Amerika saat diperlukan, kemudian ditinggal begitu saja setelah kepentingannya selesai.


Selain di Suriah dan Irak, suku Kurdi juga berada di Turki dan Iran sebagai minoritas. Orang Kurdi beragama Islam dan bermajhab Sunni. Jumlah mereka di Suriah sekitar 2,2-3 juta (9-15 persen), Irak sekitar 6,2-6,5 juta (15-23 persen), Turki sekitar 11-15 juta (15,7-25 persen), dan Iran sekitar 6,5-7,9 juta (7-10 persen).

Mereka berdomisili dan memgelompok di sebuah wilayah yang berada di perbatasan keempat negara. Akan tetapi secara geografis, mereka juga berada di sebuah wilayah yang dikenal dengan Kurdistan, sehingga memudahkannya untuk saling berkomunikasi dan saling membantu.

Bila dilihat dari perspektif sejarah, terpecahnya suku Kurdi ke sejumlah negara yang berbeda, disebabkan oleh kebijakan negara-negara penjajah saat meninggalkan negara-negara jajahannya.

Kini mereka menuntut untuk memiliki negara sendiri, dan mereka terus berjuang baik secara politik maupun militer. Di sejumlah negara, mereka berhasil mendapatkan status otonomi yang sangat luas, baik terkait dengan otoritas politik, ekonomi, maupun budayanya.

Akan tetapi otonomi tampaknya bukan menjadi tujuan final perjuangan mereka. Karena itu, setiap kali muncul peluang, khususnya saat terjadi pergolakan politik atau militer di wilayah mereka, suku Kurdi selalu berusaha untuk memanfaatkannya.

Sementara bagi negara-negara yang didiami menganggap apa yang diperjuangkannya, sebagai  gerakkan separatis yang harus ditumpas. Hal ini yang menyatukan para penguasaItu baik di Ankara, Damaskus, Bagdad, maupun Teheran.

Akibatnya bangsa Kurdi selalu menjadi korban atau paling mendertia, setiap kali terjadi pergolakan politik maupun militer di kawasan.

Saat ini terjadi negosiasi dan kompromi antara para penguasa di Ankara dengan Washington dan Moscow, yang didukung oleh Damaskus untuk membuat zona aman di Timur Laut Suriah.

Turki akan menggunakan wilayah ini sebagai tempat yang aman bagi pengungsi Suriah yang akan dipulangkan, yang jumlahnya sudah mencapai 3,6 juta, yang sangat membebani Turki beberapa tahun terakhir.

Bagi penguasa di Damaskus, kehadiran tentara Turki di wilayah ini sangat membantu, sepanjang tidak menetap secara permanen. Dengan demikian tentara Suriah tidak perlu berkeringat untuk menertibkan para pejuang Kurdi yang memusuhi Damaskus, yang terlanjur kuat berkat dukungan Washington selama beberapa tahun terakhir.

Bagi Rusia, kehadirannya di kawasan ini menggantikan tentara Amerika, mendapatkan persetujuan baik dari Ankara maupun Damaskus.

Kini para pejuang Kurdi dan masyarakat sipil yang mendukungnya harus menanggung sendiri kerugian materiel dan penderitaan moril, karena harus meninggalkan markas mereka yang berada di perbatasan Suriah-Turki.

Fasilitas militer dan properti sipil yang dimilikinya harus ditinggalkan begitu saja secara tergesa-gesa. Sampai kapan bangsa Kurdi akan menderita, dan bagaimana nasib mereka ke depan, tidak mudah diprediksi mengingat perubahan peta politik di kawasan, disamping perubahan aliansi para penguasa di kawasan dengan negara-negara super power juga berubah-ubah dengan cepat.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya