Berita

Presiden Jokowi saat bertemu pimpinan MPR RI/Net

Publika

Kabinet Penguat Sinyal

SELASA, 22 OKTOBER 2019 | 04:29 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BERORIENTASI hasil. Target kerja dari tugas kabinet periode kedua adalah mencapai keberhasilan pembangunan, sesuai dengan hal-hal yang telah disampaikan dalam pidato pelantikan (21/10).

Dalam rumusan intisari pidato pembukaan untuk masa bakti kepemimpinan 2019-2024, sekurangnya ada sinyalemen dalam lima tanah penting. Termasuk di antaranya; (i) prioritas pembangunan SDM, (ii) pembangunan lanjutan infrastruktur, (iii) penyederhanaan regulasi, (iv) pemangkasan level birokrasi, dan (v) transformasi ekonomi menjadi manufaktur serta jasa.

Berdasarkan kajian pidato tersebut, terdapat tujuan besar kerja kabinet kali ini bagi kemakmuran serta kesejahteraan publik, sebagai bentuk realisasi dari perwujudan atas nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Penekanan yang diberikan termasuk soal gagasan dalam cita-cita negara maju sesuai visi Indonesia Emas 2045, yang akan berusia 100 tahun di alam kemerdekaan. Perlu komitmen, kerja keras dan mampu untuk berkompetisi secara dinamis di tingkat global.

Kerja yang diimplementasikan bagi kepentingan publik, lebih lanjut harus dimaknai untuk dapat memastikan keberlimpahan sumber daya yang dimiliki bangsa ini dijadikan sebagai keunggulan bersaing secara produktif.

Sent and Delivered

Menariknya, skema kerja yang akan dibangun pada pemerintahan terpilih kali ini, diilustrasikan dengan skema pengiriman pesan dalam komunikasi. Istilah langsung yang dipergunakan adalah making delivered bukan sekadar sending message.

Pilihan diksi tersebut, sesuai dengan konsepsi komunikasi David K Berlo, 1960 tentang skema model SMCR (source, message, channel, receiver). Pola komunikasi tersebut berusaha untuk menyampaikan pesan yang mampu ditangkap dan dirasakan oleh penerima pesan.

Dalam konteks komunikasi pemerintah, maka peran kementerian dalam berbagai sektor tidak ubahnya menjadi pengirim pesan ulang dari keputusan di tingkat pusat.

Bersumber dari gagasan kepemimpinan pemerintahan -source, disusun melalui struktur pesan lewat program kerja kementerian -message, yang kemudian didistribusikan melalui berbagai kanal interaksi publik sebagai kebijakan -channel, dan tersampaikan kepada khalayak -receiver.

Sinyalemen untuk bekerja lebih keras dan sekuat tenaga, tentu akan menjadi indikator atas output yang diharapkan. Periode pemerintahan kedua kali ini, sudah seharusnya tidak menyisakan beban untuk memastikan capaian pembangunan bagi hajat masyarakat.

Sebagaimana komunikasi SMCR oleh Berlo, bersifat satu arah dan tidak memberi ruang bagi umpan balik. Di titik itu, perlu ada kemampuan sensitif untuk merumuskan kehendak serta aspirasi publik. Dengan begitu, artikulasi pembangunan nantinya bersifat menyeluruh. Perhatikan pula voice dari noise pada benturan kepentingan.

Waspadai Susah Sinyal

Perlu diingat bila waktu kekuasaan itu bersifat terbatas. Bisa jadi terdapat jeda fase adaptasi hingga mulai dapat bekerja efektif. Padahal target pembangunan dalam penjabaran kelima pokok tersebut membutuhkan kerja dengan tingkat akselerasi tinggi. Gaspol istilah bekennya.

Konsep deregulasi dan debirokratisasi bukan hal baru. Berulang kali digagas, bersamaan dengan itu pula hasilnya masih tumpang tindih. Kebijakan antarlembaga hingga antarlevel pemerintahan kerap tumpang tindih -overlap.

Terobosan spesifik tentang eselonisasi menjadi menarik, terkait bentuk perombakan fundamental dari tata kelola sumber daya dalam organisasi pemerintahan. Problematika para profesional swasta maupun akademisi yang masuk ke wilayah otoritas birokratis adalah kegagalan memahami cara kerja berlapis layaknya kulit bawang.

Kegagalan transmisi sinyal pesan, dalam membangun komunikasi pemerintah, melalui perpanjangan tangan menteri dari abstraksi besar kepemimpinan nasional, bisa jadi disebabkan waktu antara -time lag. Jangan sampai pengambilan kebijakan mengalami keterlambatan, dibandingkan dengan perkembangan pada sebuah fenomena sosial.

Gerak kerja kabinet harus seragam dan saling berkaitan. Disamping itu, evaluasi bagi perbaikan ekonomi harus menjadi fundamental penting yang akan dijadikan sebagai warisan -legacy bagi tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.

Kepemimpinan nasional sesuai siklusnya akan berhadapan dengan persoalan harmoni kabinet menjelang periode akhir jabatan. Terutama bagi para menteri yang berasal dari partai politik, ketika mulai sibuk mencari panggung bagi kepentingan diluar kerja kabinet. Patut diwaspadai, proses kerja akan mengalami perlambatan.

Pilihan kabinet harus menempatkan prinsip "the right man at the right place". Dibutuhkan kecakapan atas kompetensi konseptual hingga teknis, serta kemampuan menerjemahkan instruksi pemimpin menjadi catatan tersendiri. Jangan sampai masing-masing anggota kabinet terlalu asyik dengan style-nya sendiri sehingga sulit dikoordinasikan.

Bersih dan Berwibawa

Integritas moral arus menjadi bagian etis yang menjaga perilaku anggota kabinet. Bekerja benar dengan cara-cara yang benar. Disitu letak tantangan terbesarnya, ketika letak kekuasaan ada di dalam genggaman, berhadapan dengan kepentingan pragmatis jangka pendek.

Berkaca dari refleksi kabinet kerja episode pertama, KPK menjadi filter bagi penyelewengan kekuasaan. Bahkan di tubuh kabinet sebelumnya, ada petinggi kementerian yang menjadi tersangka. Hal tersebut menguatkan sinyalemen, bahwa kekuasaan memang kerap ditransaksikan melalui pertukaran pengaruh.

Situasinya bisa menjadi berbeda, terutama sejak revisi UU KPK dinyatakan berlaku. Padahal tujuan utama pembangunan tahap kedua tidak sekadar melanjutkan, tapi juga sekaligus menuntaskan. Kita tentu patut khawatir. Karena persoalan korupsi adalah hambatan terbesar bagi pembangunan.

Perhatian atas kualitas pembangunan akan terkait dengan dampak yang dihasilkan. Rendahnya kualitas pembangunan sebanding dengan beban biaya tambahan untuk sampai pada tujuan minimal.

Arah pembangunan kita ke depan, sesuai pidato pelantikan tidak berbicara lagi skema tetesan ke bawah -trickle down effect, tetapi mendorong terjadinya pembangunan berkeadilan -pro growth pro poor. Dengan begitu, halangan dan rintangan harus disingkirkan.

Perampingan birokrasi bisa jadi ditujukan untuk hal tersebut, jalur keputusan lebih singkat dan cepat, tetapi juga berkonsekuensi pada soal sentralisasi kebijakan masing-masing sektor secara powerfull. Harus ada mekanisme check and balances di sana agar tidak tergelincir.

Problemnya, pada mekanisme kelembagaan, fungsi KPK telah melemah, sedangkan pada koridor politik hampir tidak tersisa kubu oposisi yang seimbang.

Sesuai Wijayanto Samirin, Bridging the Gap, 2014, dibutuhkan penguatan institusi agar tercipta social trust sebagai modalitas pembangunan. Kalau sudah begitu, kita tentu berharap, kepemimpinan terpilihlah yang akan menjalankan fungsi kontrol langsung atas kerja kabinetnya.

Agar pada periode terakhir ini akan dapat dikenang sebagai kabinet kerja yang bersih dan berwibawa. Selamat bekerja!

Penulis tengah menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya