Berita

Bunda Teresa/Net

Jaya Suprana

Kemanusiaan Adalah Mahkota Peradaban

SENIN, 21 OKTOBER 2019 | 08:33 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NAMA para tokoh politik diabadikan sebagai nama bandara internasional, Jakarta: Soekarno Hatta dan New York: J.F Kennedy. Nama para tokoh budayawan diabadikan pada bandar udara Internasional, Roma: Leonardo da Vinci atau Warsawa: Fryderyk Chopin.

Ketika tiba di bandara internasional Tirana, AlbAnia, saya merasa terharu bahwa nama tokoh pejuang kemanusiaan, Nene Teresa ternyata diabadikan sebagai nama bandara internasional ibukota Albania, Tirana.

Anjeze Gonxhe Bojaxhiu
Masyarakat Albania sedemikian bangga atas putri terbaik Albania, Anjezë Gonxhe Bojaxhiu yang kemudian jauh lebih dikenal di seluruh dunia dalam bahasa Albania sebagai Nene Teresa. Yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Mother Teresa dan dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Bunda Teresa.

Masyarakat Albania sedemikian bangga atas putri terbaik Albania, Anjezë Gonxhe Bojaxhiu yang kemudian jauh lebih dikenal di seluruh dunia dalam bahasa Albania sebagai Nene Teresa. Yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Mother Teresa dan dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Bunda Teresa.

Sehingga namanya diabadikan sebagai nama bandar udara international Ibukota Albania. Sebuah monumen dengan patung Nene Teresa didirikan di kawasan gerbang bandara internasional Tirana. Di pusat kota Tirana terdapat sebuah alun-alun yang diberi nama Shesi Nene Teresa alias Mother Teresa Square.

Misionaris Charitas
Nene Teresa adalah warga keturunan Albania yang dilahirkan di Skopje yang kini menjadi Ibukota Makedonia Utara. Pada usia 18 tahun, Anjezë Gonxhe Bojaxhiu pindah ke Irlandia kemudian menetap di Kalkuta, India untuk mempersembahkan mahakarya kemanusiaan.

Pada 1950, Bunda Teresa mendirikan sebuah kongregasi keagamaan atau lebih tepat disebut sebagai kongregasi kemanusiaan bernama Misionaris Charitas (Misionari Kasih-Sayang)  dengan anggota lebih dari 5.000 relawati di 133 negara menyelenggarakan asrama bagi kaum miskin yang menderita HIV/AIDS, lepra dan TBC.

Misionari Kasih-Sayang juga menyelenggarakan dapur umum, dispensari, mobile puskesmas, program counselling anak-anak dan keluarga, asrama yatim-piatu dan sekolah. Para relawati bersumpah melakukan selibasi, kesederhanaan. dan kepatuhan di samping memberikan pelayanan tulus tanpa pamrih bagi kaum termiskin di antara kaum miskin.

Apa yang dilakukan Nene Teresa terkesan janggal bahkan mubazir di tengah gelora semangat kapitalisme, hedonisme, konsumtifisme memberhalakan gemerlap keharta-bendaan. Nene Teresa memperoleh anugrah Nobel untuk Perdamaian atau sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Kemanusiaan pada 1979 sebelum dinobatkan sebagai Santa.

Kasih-Sayang
Meski saya bukan umat Katolik namun sejak masa kanak-kanak saya mengagumi pengabdian tanpa pamrih Bunda Teresa bagi kemanusiaan, terutama kepada kaum termiskin di antara kaum miskin. Saya tidak pernah mampu melupakan jawaban Bunda Teresa terhadap kritik yang datang dari berbagai pihak termasuk bahkan dari Vatikan bahwa Bunda Teresa tidak menyebarkan agama Katolik kepada kaum miskin yang ditolongnya.

Jawaban Bunda Teresa adalah “Tugas saya bukan menyebar agama namun menyebar Kasih-Sayang". Adalah Bunda Teresa yang menyadarkan saya bahwa Tuhan hadir pada saat manusia mempersembahkan kasih-sayang kepada sesama manusia.

Kemanusiaan
Adalah Bunda Teresa yang menginspirasi saya untuk mempelajari kemanusiaan sehingga pada 2016 saya mendirikan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Saya sadar bahwa diri saya mustahil mampu melakukan pengabdian kemanusiaan tanpa pamrih apalagi kesiapan untuk hidup bersama dengan kaum termiskin di antara kaum miskin. Maka, minimal saya berupaya mempelajari makna yang diwariskan oleh Nene Terasa kepada seluruh umat manusia di planet bumi ini, yaitu apa yang disebut sebagai kemanusiaan.

Saya kurang beruntung belum pernah berjumpa Bunda Teresa semasa beliau masih hidup, namun saya beruntung di Tanah Air Udara saya sendiri berjumpa seorang pejuang kemanusiaan yang melanjutkan perjuangan Bunda Teresa maka kemudian saya angkat menjadi mahaguru kemanusiaan saya yaitu Sandyawan Sumardi.

Adalah Bunda Teresa yang mewariskan kesadaran bagi saya untuk mendayagunakan masa sisa hidup saya mempelajari demi mendalami makna kemanusiaan yang sebenarnya.

Adalah Bunda Teresa yang mewariskan kesadaran bagi saya bahwa pada hakikatnya Kemanusiaan Adalah Mahkota Peradaban.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya