Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Kisah Penciptaan

MINGGU, 20 OKTOBER 2019 | 04:24 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI dunia terdapat berbagai kelompok masyarakat yang masing-masing memiliki latar belakang peradaban dan kebudayaan saling beda satu dengan lainnya. Namun pada hakikatnya kesemuanya yang saling beda itu bersatu dalam upaya mencari makna kehidupan. Maka masing-masing kelompok masyarakat memiliki Kisah Penciptaan yang saling beda satu dengan lainnya.

Kisah Penciptaan
Masyarakat Yunani Kuno meyakini kisah penciptaan versi Hesiodus bahwa dewa Quranos dan dewi Gaia melahirkan kaum Titan, Hecatoncheires, Erynes, Afrodit, dan para dewa-dewi mitologi Yunani temasuk Jupiter.

Masyarakat Norsa di kawasan Skandinavia memiliki kisah penciptaan yang tersurat di dalam karya Prosa Edda gubahan Snorri Sturluson bahwa Bapak Alam Semesta adalah Ymir.

Masyarakat Norsa di kawasan Skandinavia memiliki kisah penciptaan yang tersurat di dalam karya Prosa Edda gubahan Snorri Sturluson bahwa Bapak Alam Semesta adalah Ymir.

Masyarakat Mesir Kuno berkisah penciptaan bahwa pada awalnya hanya ada samudera primal Nun  alias Ketidakadaan. Atum bangkit dari Nun  kemudian dari tubuhnya sendiri melahirkan para dewa mitologi Mesir mulai dari Shu, Tefnut, kemudian Hathor yang dari air matanya lahirlah manusia.

Masyarakat Tahiti percaya bahwa semula alam semesta adalah kulit kerang berbentuk seperti telur. Di dalam telur itu hadir Ta’aroa yang tidak punya ayah dan ibu namun kemudian menjadi pencipta segenap mahluk hidup di planet bumi.

Masyarakat Minahasa memiliki kisah tentang Toar dan Lumimuut yang digambarkan sebagai nenek moyang mereka.

Suku Lakota di Amerika percaya bahwa sebelum bumi diciptakan, dewa-dewa tinggal di surga sementara manusia hidup di dunia bawah yang tidak punya peradaban.

Tafsir
Masyarakat Mande di Mali selatan percaya bahwa pada mulanya hanya ada Mangala sebagai makhluk tunggal yang kuat dan dahsyat. Di dalam Mangala terdapat empat bagian, yang antara lain melambangkan empat hari dalam satu minggu, empat unsur alam, dan empat arah (ruang).

Mangala juga mengandung dua pasang kembar yang berjenis kelamin ganda. Mangala bosan menyimpan semua unsur ini di dalam dirinya, maka mengeluarkannya dan membentuknya menjadi sebuah benih. Benih inilah yang menjadi penciptaan dunia ini.

Menurut kosmologi Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap.

Demikian pula dewa Brahma menciptakan alam semesta tahap demi tahap dengan bertapa yang memancarkan enerji panas. Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda.

Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta.

Mohon dimaafkan jika akibat kedangkalan wawasan pemikiran dan pengetahuan maka saya keliru dalam menafsirkan beraneka-ragam Kisah Penciptaan  

Bhinneka Tunggal Ika

Fakta kultural-antropologis membuktikan bahwa umat manusia terdiri dari beraneka-ragam (Bhinneka) masyarakat yang masing-masing memiliki latar belakang peradaban dan kebudayaan saling beda satu dengan lainnya.

Namun secara spiritual, segenap masyarakat bersatupadu (Tunggal Ika) dalam upaya mencari makna kehidupan dengan segala aspeknya. Mulai dari kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan sampai ke kisah penciptaan alam semesta beserta segenap mahluk hidup di dalamnya.

Akibat saling berbeda latar belakang lingkungan peradaban dan kebudayaan mau pun alam maka para Kisah Penciptaan juga saling berbeda satu dengan lain-lainnya.

Selaras mashab keyakinan 'Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku' maka InshaAllah segenap pihak  berkeyakinan Kisah Penciptaanmu Kisah Penciptaanmu, Kisah Penciptaanku Kisah Penciptaanku. Sehingga tidak ada yang merasa dirinya memiliki Kisah Penciptaan lebih benar ketimbang Kisah Penciptaan orang lain.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya