Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Tebus Kegagalan Periode Pertama, Jokowi Harus Bentuk Tim Ekonomi Baru

SABTU, 19 OKTOBER 2019 | 21:47 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Masalah ekonomi menjadi bukti kegagalan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di periode pertama kepemimpinannya. Indikatornya, tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa bergerak lebih baik dari angka lima persen. Diprediksi tahun ini akan nyungsep ke angka 4 persen.

Masalah menjadi semakin kompleks karena neraca hutang Indonesia terus menumpuk. Bahkan sejak tahun 206, Sri Mulyani sudah menerbitkan hutang negara sebesar Rp 790,7 triliun.

Analis ekonomi politik, Kusfiardi menjelaskan, rezim pemerintahan Jokowi membutuhkan sosok baru yang mampu memperkuat fundamental ekonomi nasional.


Menurutnya, selama ini masalah ekonomi Indonesia selalu berkaitan dengan ekonomi mendasar dan lesunya pembangunan industri nasional.  
"Kita butuh sosok yang komitmen untuk memajukan perekonomian nasional yang menyejahterakan rakyat. Caranya melalui penguatan fundamental ekonomi dan pembangunan industri nasional," kata Kusfiradi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (19/10).

Lebih lanjut Kusfiardi menyebutkan, tim ekonomi Jokowi kedepan harus berani mengurangi impor bahan pangan. Selain itu, pemerintah harus menopang dengan kebijakan yang menguatkan pengembangan industri di bidang pangan.

"Pertama prioritasnya mengurangi impor bahan pangan yang didukung dengan penguatan sektor pangan termasuk industrinya. Kedua mendorong percepatan industri substitusi impor," tandasnya

Jokowi kata Kusfiardi, harus membangun industri dasar pengolahan hasil tambang nasional. Tujuannya, menggenjot nilai tambah dari setiap produk dalam negeri. .

"Jadi poinnya adalah memperkuat ekonomi nasional dengan meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan melalui skema industri nasional," pungkasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya